Pulau Onrust, Tak Pernah Istirahat

pulau onrust 1

Jalan-jalan hari kedua dilanjutkan ke salah satu pulau dari sekian banyak pulau di Kepulauan Seribu. Namanya Pulau Onrust. Pulau dengan luas 5 Ha ini dapat kita kelilingi dalam waktu 30an menit berjalan kaki. Tidak begitu luas memang, tapi sangat eksotis.

Pulau Onrust adalah pulau yang sangat terkenal pada jamannya. Bali? Jangan ditanya. Tahun 1700an, orang lebih kenal dengan Pulau Onrust, sama seperti kini orang mengenal Pulau Bali.

Rombongan merapat di dermaga Pulau Onrust sekitar pukul 14.00. Sudah agak sore. Koko Ray langsung mengajak berkeliling sambil menceritakan sejarah Pulau Onrust, beserta seluruh bangunan yang ada di situ. Kebanyakan tinggal puing puingnya saja, meski masih ada beberapa yang berdiri tegak. Diantara yang masih kokoh adalah bekas rumah sakit dan rumah tinggal dokter. Bekas bangunan penjara juga masih ada, namun sangat disayangkan, tangan tangan jail mencorat coret dindingnya dengan kejam.

Pulau Onrust adalah pulau yang dijadikan sebagai asrama penampungan Haji. Ada 35 blok penampungan, dimana para calon Haji diasrama sebelum diberangkatkan menuju tanah suci menggunakan kapal laut.

Pulau Onrust pernah terjadi wabah tikus yang sangat parah, hingga menewaskan banyak sekali penghuninya. Bahkan struktur bangunan di Pulau Onrust dibuat dengan memasang perangkap tikus di sekitar pondasi bangunan.

Tikus – tikus di Pulau Onrust tidak berasal dari Indonesia melainkan import dari negeri Belanda. Mereka menumpang pada kapal kapal barang yang merapat di pelabuhan dan akhirnya beranak pinak di pulau tersebut.

Kisah yang paling terkenal dari Pulau Onrust adalah kasih tak sampainya Maria Van De Veldes yang meninggal pada usia 25 tahun. Maria lahir di Belanda 1694 dan meninggal di pulau Onrust tahun 1719. Maria meninggal mengenakan baju pengantinnya, menunggu sang kekasih yang akan datang dari Belanda. Penantiannya tersebut sia sia juga seandainya Maria tidak meninggalpun, karena sang kekasih ternyata juga sudah meninggal terlebih dulu.

Pulau Onrust 4

Hingga kini Maria masih terus menampakkan dirinya di Pulau Onrust. Entah sampai kapan.

Oiya, makam Maria ini berada di satu lingkungan pemakaman khusus untuk orang orang Belanda. Masih banyak lagi makam lain yang lebih tua. Makam orang Belanda memang dipisahkan dari makam orang orang pribumi. Kok ada orang pribumi di Onrust? Pribumi ini adalah calon haji yang meninggal sebelum berangkat. Gw sempet foto foto di makam Maria, kalo mo liat, tentu harus add facebook gw dulu.

Ada satu lagi makam yang katanya juga keramat. Tapi saya tak melihatnya sendiri. Hanya cerita Mas Dhanang yang keliling sampe sana. Yaitu makamnya Kartosuwiryo. Buat yang jago sejarah, pastinya kenal dong siapa bapak yang satu itu. Hanya saja nggak jelas makamnya yang mana diantara dua makam yang ada di situ.

Yang menarik lagi dari Pulau Onrust adalah pohon-pohonnya yang rindang dan lebat. Pulau Onrust adalah pulau yang paling lebat pohonnya diantara semua pulau yang ada di kepulauan seribu.

Bagaimana kalau mau ke Onrurs? Naik perahu dari Angke, hanya setengah jam. Tapi jangan harap Anda bisa menginap, nggak ada guest house di sana. Entahlah jika kemping, diijinkan atau tidak. Berapa tarif kapalnya saya nggak tahu. Mungkin lebih murah dari ke Pulau Tidung yang bertarif Rp. 35.000.

Nggak rugi sesekali jalan-jalan ke Onrust. Asyik lho.

~~~

Mau tanya-tanya seputar Pulau Onrust? Follow twitter saya di @isnuansa

Trans Studio, Disneyland Indonesia di Makassar

Kenapa kali ini saya posting dengan judul agak sedikit aneh “Disneyland Indonesia di Makassar”? Bosan juga setiap hari ngomongin blog melulu, sesekali saya juga pengen refreshing, jalan-jalan, keluar dari rutinitas.

Meski saya baru berharap bisa ke sana, saya sudah mencari banyak informasi tentang tempat hiburan baru yang diresmikan oleh Kalla tersebut. Namanya Trans Studio. Hasil patungan Para Group [milik bos Trans TV, Chairul Tanjung] sebanyak 55% dan Kalla Group [yang ini semua sudah tau siapa dia kan?] sebanyak 45%.

Trans Studio berada di Makassar, Sulawesi Selatan. Tepatnya di Tanjung Bunga [sttt, saya sudah pernah ke Pantai Tanjung Bunga sewaktu belom ada Trans Studio] berjarak sekitar 5 km dari Makassar.

Indoor Theme Park terbesar di dunia tersebut luasnya 2,7 hektar, dengan biaya pembangunan tak kurang dari 1 triliun rupiah. Ada 22 wahana yang sebagian besar diadopsi dari Disneyland dan Universal Studio, makanya bisa dibilang Trans Studio adalah disneyland nya Indonesia.

Untuk bisa menikmati indahnya Trans Studio, pengunjung harus menggunakan kartu semacam ATM yang disebut Studio Pass seharga Rp. 100.000,- [Seratus Ribu Rupiah] dan bisa diisi ulang sampai batas lima juta rupiah.

Dengan menggunakan studio pass tersebut, pengunjung dapat memasuki wahana yang ada [per wahana harganya 10 sampai dengan 25 ribu], makan minum di restoran yang ada, dan berbelanja di toko yang bekerjasama dengan Bank Mega [milik Bos Chairul Tanjung], selama kredit masih ada. 😉

Kalo dihitung-hitung, masih lebih mahal juga ya jika dibandingkan dengan konsep hiburan yang ditawarkan Dunia Fantasi, Ancol, misalnya. Dengan tiket terusan Dufan, kita sudah bisa menikmati banyak sekali wahana tanpa perlu membayar lagi setiap wahana.

Meski begitu, suatu saat, saya pengen juga mencobanya. Bagaimana dengan Anda?

——————————————————-

Tulisan lain yang perlu Anda baca:

Candi Borobudur, Indonesia

Candi BorobudurDalam mudik lebaran tahun ini, hanya adik saya dan kawan-kawan kuliahnya [yang juga sama-sama mudik ke kampung di seputaran Solo] yang sempat piknik ke Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.

Tahun lalu saya bersama keluarga besar sempat jalan-jalan ke Candi Borobudur, tetapi tahun ini kami hanya 3 hari di kampung halaman, jadi badan bener-bener capek berat jika harus setiap hari berwisata saja. Hari sebelumnya saya dan keluarga menghabiskan waktu di Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah.

Adik saya meminjam sepeda motor sepupu dan berangkat bersama teman-temannya yang menjemput pagi-pagi sekali dari Solo dan Sukoharjo. Mereka menuju rumah salah satu kawan yang terletak di dekat Candi Borobudur. Masih dalam kawasan juga. Bersama kawan yang memiliki KTP setempat, mereka bersama-sama menuju candi.

Sesampainya di Candi Borobudur, kawan yang memiliki KTP daerah Magelang, Jawa Tengah, tersebut diminta untuk mendaftarkan diri di loket. Ternyata hanya berbekal KTP penduduk setempat, mereka bebas masuk ke dalam Candi Borobudur tanpa harus membayar retribusi masuk sebesar Rp. 22.500,- per orang. Berapapun jumlah kawan yang diajak, semua tidak perlu bayar alias gratis tis tis.

Ada satu lagi perbedaan dengan tahun lalu. Adik saya dan kawan-kawan dengan pedenya langsung masuk ke dalam candi dan menaiki tangga-tangga candi menuju puncak. Ternyata oh ternyata, sekarang ini Candi Borobudur telah ditertibkan dari segala macam pedagang asongan! Jadi sesampainya di puncak candi, mereka malah jadi hampir pingsan karena kekurangan cairan. Dan tidak ada satupun penjual minuman yang dapat mereka temui. Hihihi… Terpaksa menelan ludah melihat orang-orang yang sedang minum dari bekal mereka masing-masing.

Karena masih dalam suasana Lebaran, seperti biasanya seluruh objek wisata dipenuhi dengan pengunjung. Tak terkecuali Candi Borobudur. Meski kini tak lagi masuk ke dalam daftar 7 keajaiban dunia, tetapi keindahan Candi Borobudur masih memikat banyak wisatawan baik lokal maupun mancanegara.
Borobudur
Seperti David Backham yang pada bulan puasa kemarin mengunjungi Candi Borobudur dengan menutup penuh seluruh kawasan. Hmmm, berapa ya kira-kira harga yang harus dibayar?

Ah sudahlah, saya agak sedikit kecewa karena tidak bisa ikut jalan-jalan ke Candi Borobudur, tetapi cukup senang bisa membagi ceritanya kepada Anda di blog ini.