Nonton Bareng Simpati Robin Hood Jalan Jalan Ke Bali

Aarrrgghhh! Saya pengen ngamuk dulu. Bukan karena nggak punya rasa terima kasih, tapi kesel karena jadwal jalan-jalan ke Bali-nya nggak sesuai dengan keinginan.

Senin lalu saya berbunga-bunga, menerima sebuah telepon yang mengabarkan saya berhak jalan-jalan ke Bali hanya karena menulis dua postingan seperti ini dan ini. Padahal tulisan itu dibuat tanpa mikir, serba terburu-buru dan terus terang: asal jadi.

Saya nggak berharap apa-apa. Toh, semua sangat cepat saya buat. Ambil sana ambil sini, tentu ngasih link ya… Hari itu saya sedang persiapan jalan-jalan saya ke Makassar.

Hari Selasa saya ambil tiket nonton premier film Robin Hood ke Atrium Mulia, Kuningan. Dapet dua buah novel dan dua buah tiket. Eh, saya dapet hibah lagi dari Mbak Dwi Nengbiker, dua buah novel dan tiket nonton lagi. Lumayan, bisa ajak-ajak teman nonton, berbagi kebahagiaan.

Novelnya saya baca sampai sepertiga bagian sebelum saya nonton filmnya hari Rabu malam. Karena isinya sama antara novel dengan film, ya serasa sudah tau adegan setelahnya apa begitu lihat filmnya. Nggak begitu seru lagi.

Pulang dari kantor sudah hampir jam 20.00an padahal jam 20.30 sudah harus nuker voucher dengan tiket. Meluncur deh langsung, tuker tiket. Habis itu makan malam dulu.

Saat di Blitz Pacific Place, ketemu dengan teman blogger yang buat saya wajahnya nggak asing lagi: si cantik nan centil Eka Situmorang-Sir aka Ceritaeka. Eka sih tentu saja nggak langsung ngeh siapa saya. Tapi begitu sadar, langsung meluk, hahaha… Di tubuh kami mengalir darah yang sama: dari Klaten! *gapentingyabo*

Isnuansa dan Ceritaeka

Tiket yang ada melimpah, dikumpulin dan dibagi-bagiin ke pengunjung Mall yang lewat. Siapa aja yang mau nonton, silahkan. Hahahaha… Pulang udah jam 01.00 tidur deh. 😛

Kamisnya, saya dan beberapa orang pemenang jalan-jalan ke Bali dari Simpati ini sudah ngobrol melalui PM Facebook, rencana keberangkatan ke Bali. Jadwal paling awal adalah Sabtu-Minggu 15-16 Mei. Dirubah jadi 16-17 Mei. Sudah ada yang packing, sampai-sampai kami ngobrolin detail jumlah CD yang harus dibawa pula!

Yang dari Bandung rencana berangkat jam 3 subuh (jam 6 sudah harus di Bandara). Yang dari Surabaya ke Jakarta dulu, padahal Surabaya-Bali lebih deket! 😆

Semua sudah direncanakan oleh sesama peserta jalan-jalan ke Bali ini, meski dalam kelompok kecil (bukan seluruh peserta). Ini yang mungkin panitia sendiri belum sampai memperhitungkan sedetail itu.

Susahnya akses informasi ke panitia (meski belakangan ada kontak person yang dikasih), membuat peserta bertanya-tanya sendiri banyak hal. Sayapun menyadari kerepotan panitia yang mengorganisir acara dengan waktu yang sangat singkat adalah bukan hal yang gampang. Semuanya nggak akan lancar jika disiapkan terburu-buru.

Saya lihat itinerary yang banyak ‘acara bebas‘nya, membuat saya berinisiatif menawarkan rencana rental mobil kepada teman-teman yang lain. Kebetulan bulan kemarin saya lebih seminggu berada di Bali dan kenal dengan jasa rental mobil yang saya pakai saat itu. Atau bisa juga dengan sewa sepeda motor, lebih murah, tapi panas… 😛

Trus, kenapa saya harus mengatakan Arrrggghh? Karena pada tanggal 28-30 Mei (perubahan jadwal terakhir) sejak sebulan lalu sudah saya rencanakan untuk jalan-jalan bersama 10 orang kawan lain ke Pangandaran!

Halah kan bisa dibatalkan, biarin kawan jalan-jalan sendiri.

Masalahnya pake mobil (orang tua) saya! Kalo saya nggak ikut, teman-teman terancam batal semua jalan-jalannya. Doh. Sungguh pilihan sulit!

Memang sih, dengan adanya perubahan jadwal, pihak SimPATI memberikan kompensasi dengan penambahan satu hari ekstra jalan-jalan di Bali. Tapi yang jadi pertanyaan: Apakah fasilitas lain juga mengikuti?

Maksud saya gini. Dengan dua hari jalan-jalan saja, jadwal yang saya terima terlalu banyak ‘acara bebas’nya daripada jalan-jalan ke objek wisata yang ditanggung Simpati. Belum lagi masalah makan siang yang juga di luar tanggung jawab panitia.

Dengan penambahan hari, otomatis akan semakin besar juga budget yang harus dikeluarkan oleh peserta dari kantong pribadi. Saya sih nggak ada masalah dengan biaya airport tax dan malan siang yang di luar tanggung jawab panitia, tetapi agak bermasalah dengan banyaknya ‘acara bebas’ yang ada, menurut asumsi saya, itu berarti kita ‘dipaksa’ jalan-jalan sendiri. Hehehe… Kalo bisa sih SimPATI yang tanggung semuanya. *molai ngelunjak* 😆

Buat SimPATI maaf ya kalo terlalu terbuka. Buat teman-teman yang akan jalan-jalan ke Bali bareng simPATI, boleh share pendapat, opini dan harapannya. Semoga panitia bisa merespon keinginan kita. 😉

Saatnya Mengakui, Isnuansa Blogger (Yang) Bodoh

Setelah selama ini saya (lebih sering) menulis dengan gaya-gaya narsis ala Isnuansa (hehe…), sekarang giliran mengakui kebodohannya. 😛 Bukan, bukan berarti saya kehabisan bahan untuk memuji diri sendiri, tapi memang harus ada saatnya menertawai diri sendiri juga. Mumpung momennya juga lagi ada.

Masih berhubungan dengan kopdar yang saya ikuti di Cempaka Mas kemaren. Ketemu dengan blogger-blogger yang lebih belakangan ngeblognya. Menjadikan saya bukannya terlihat makin keren, tapi malah lebih bodoh. Kenapa?

Jika ditanya sudah berapa lama ngeblog, jawabannya pasti sudah lama sekali. Tahun 2005 awalnya. Trus sampe sekarang udah bisa ngapain? Udah bisa apa saja? Udah jadi master dong? Udah dapet duit banyak dong? Udah bisa ngajarin blogger lain dong? Udah bikin buku dong? Udah punya banyak penggemar dong?

Hahaha, jawabannya sama sekali Tidak. Itulah kenapa saya bilang bodoh. Ya masak dari dulu begitu-begitu doang. Majunya dikit doang. Ilmu yang diserap nggak nambah-nambah. Keahliannya ya cuma bikin artikel doang, belum tentu dibaca lagi, sama orang lain, hahaha. Dan lain sebagainya.

Saya menulis seperti ini, karena salut sama Mas Casrudi, yang baru setahunan ngeblog, tapi sudah bisa (dibilang) sebagai blogger profesional. Memang sih, ngeblog saya yakin uang bukanlah sebuah parameter, tapi kalo tau jumlah $ yang sekarang ini sudah mampu dikumpulkan Mas Casrudi, semua bakalan ngiller, termasuk saya. Tenang, saya nggak akan membuka dapur orang kok Mas Rud, hehehe…

Merasa termotifasi sekaligus juga menyadari kebodohan diri sendiri yang tidak mau memulainya dari dulu. Selalu meragukan cara yang (padahal) dalam kenyataannya memang benar-benar bisa menghasilkan.

Maaf buat yang membaca tulisan ini, mungkin bingung, karena saya nggak bisa menjelaskan secara konkrit di mana letak kebodohan saya dalam ngeblog. Ya maklum, saya kan sudah akui dari judul awal: Isnuansa (ternyata) memang blogger bodoh. 😆

Pemenang 250 Years Guinness

Sekitar dua minggu yang lalu saya mengikuti sebuah kompetisi penulisan blog yang diadakan oleh Guinness Indonesia untuk memperebutkan hadiah jalan-jalan ke Dublin merayakan 250 Tahun berdirinya Guinness.

Saya mengetahui informasi adanya kompetisi tersebut dari beberapa rekan yang saya ikuti perkembangan blognya melalui feed reader saya, dan di sana diposting tulisan tentang Dublin. Karena penasaran, saya segera meluncur ke blog penyelenggara lomba.

Setelah membaca persyaratannya yang tidak terlalu rumit, saya kemudian memutuskan untuk mengikuti kompetisi dan bersaing dengan beberapa nama yang sudah begitu terkenal di kalangan blogger.

Ada satu yang saya sadari mungkin sebagai kelemahan saya dalam mengikuti penulisan blog tentang Guinness ini. Pemasangan banner sebagai syarat keikutsertaan lomba tidak saya cek dengan teliti. Karena sidebar saya tidak bisa dipasang widget, untuk menambahkan widget saya harus mengedit halaman Sidebar.php dengan benar. Karena terburu-buru, mungkin banner saya tidak bisa muncul dengan sempurna.

Dalam beberapa hal, seperti sitemeter, meskipun di komputer saya tidak bisa muncul, ketika saya buka di komputer lain akan muncul. Entah ini disebut apa, saya kurang begitu mengerti. Makanya saya berasumsi saja: Banner Guinness-nya nggak bisa muncul hanya di komputer saya saja. Toh, sitemeter juga begitu, tapi di buka di komputer lain ada. Dan saya merasa sudah benar dan tepat dalam mengedit halaman Sidebar.php.

Cerobohnya, saya tidak memastikan apakah banner tanda keikutsertaan tersebut benar-benar bisa muncul dan terlihat di sidebar atau tidak. Saya hanya percaya sepenuhnya kepada asumsi saya.

Dan beberapa hari yang lalu, seharusnya sudah diumumkan siapa pemenang kompetisi Guinness tersebut. Di websitenya sih, saya cari belom ada, tetapi karena katanya pemenangnya dihubungi lewat telepon, dan saya sampai sekarang tidak ditelepon, berarti saya belom menang.

Buat siapapun yang menang.
Selamat ya!

Meski saya belum beruntung, saya tetap semangat untuk mengikuti kompetisi yang lainnya, siapa tahu bisa menang di tempat lain. Sekarang ini saya sedang menunggu pengumuman Kompetiti Penulisan Blog dalam rangka Ulang Tahun Ke-11 DetikCom. Tulisan saya bisa dibaca di Blogdetik saya. Doakan ya, teman-teman. 😉