Rencana Jalan Jalan Ke Cirebon

Sudah agak lama juga saya nggak jalan-jalan. Pengen pergi ke suatu tempat yang belom pernah dikunjungi, tapi saya nggak punya banyak waktu untuk kabur. Lumayan padet juga jadwal yang saya punya, nggak bisa libur tiga empat hari gitu buat jalan-jalan. Makanya saya mikir, ke mana ya enaknya bisa jalan ke daerah yang nggak terlalu jauh?

Entah kenapa saya kepikiran buat main ke Cirebon. Tapi saya masih bingung juga, mau jalan ke sana sendiri, ke mana saja ya?

Dapat Partner

Jalan-Jalan Cirebon

Pas ngobrol dengan teman, nggak diduga, dia juga lagi pengen jalan-jalan ke Cirebon. Ya sudah. Jadilah saya akan jalan-jalan sama dia. Tempat tujuan masih dalam diskusi sampai saat ini. Syukur-syukur kalau ada teman-teman yang ngasih masukan, sebaiknya ke mana saja saya nanti selama ada di Cirebon.

Yang pasti sih bakalan wisata kuliner. Nasi Jamblang wajib dicoba. Trus sama pengen ke Pantai. Ada juga tempat wisata lain yang sudah dibikin itinerary-nya sama teman, tapi saya belom lihat. 😆

Naik Kereta

Berhubung hari Jumat saya dan teman masih kerja dan pulangnya malam, rencananya kami mau naik kereta Sabtu pagi. Googling cari informasi, ada kereta Cirebon Express tapi berangkatnya pagi banget dari Jakarta, sedangkan rumah saya di kampung pinggiran gitu.

Jadinya, kalo terpaksa nanti bakalan naik kereta yang ekonomi deh, hiks. Kenapa harus naik kereta? Karena hotel tempat rencana kami menginap berada di deket-deket stasiun, jadi biar gampang. Lagian, kereta anti macet. Mudah-mudahan sih jangan kecelakaan ya. 😆

Kopdar?

Ada nggak ya, teman blogger yang rumahnya di Cirebon kota? Kalau masih ada waktu sih pengennya sekalian kopdar juga, tapi sejauh ini saya masih belum tau sama sekali rekan blogger yang tinggalnya di Kota Cirebon. Kalu ada yang tau, minta tolong diinfo di kolom komentar ya, teman.

Naik Kereta Api Ekonomi Pilihan Sendiri

Ada komentar di postingan saya: Saya nggak percaya orang sekelas Isnuansa naik kereta api ekonomi, shocked. Saya yakin teman tersebut tidak sendirian. Banyak di antara Anda, pembaca blog ini yang berpikiran sama.

Hehehe. Saya sendiri juga setengah nggak percaya bisa melakukannya. Sudah sepuluh tahun yang lalu mungkin saya melakukannya. Dan kemarin itu, murni pilihan sendiri. Saya nggak sadar kalau pilihan saya sempat juga dipolitisir di tempat konggres. Rupanya, banyak yang memperhatikan status facebook saya, sehingga banyak yang tahu jika saya naik ketera api.

Jadilah muncul tudingan: Masa anak buah Mr.X (maaf Pak Susno, pinjam istilahnya ya) ke Bali naik kereta api. Dem! Saya nggak kepikiran sampe ke sana. Karena saya bangga melakukan perjalanan dengan kereta api itu, saya apdet status terus di Facebook. Rupanya banyak yang salah tafsir.

Beberapa hari sebelum berangkat, saya ijin khusus. Teman-teman lain yang beli tiket ngajakpun saya nggak mau. Bahkan papa dan adik saya juga berangkat sendiri, saya nggak mau diajak bareng sama semua. Pilih jalan sendiri.

Politik (memang terkadang) parah! Masa’ backpacking jadi ikut dipolitisir juga.

Naik kereta api ekonomi kemarin, merupakan pengalaman yang jauh berbeda dengan sepuluh tahun yang lalu. Kereta api jauh lebih baik. Jendela tertutup semua dengan kaca. Posisi kaca tidak ada yang miring atau terlepas sehingga orang-orang tak lagi bisa masuk dengan melalui jendela. Kursi juga rapi semua. Meski pedagang dan pengamen masih lalu lalang, tapi karena kereta nggak penuh, jadi nyaman-nyaman aja tuh.

Semalam saya baca blognya Trinity the naked traveler, ada juga guest bloggernya yang menceritakan betapa seringnya dia naik kereta api ekonomi, sebagai penumpang gelap, lagi!

Salah satu yang mendasari saya memilih naik kereta api adalah banyaknya tulisan yang mengatakan untuk menjadi seorang backpacker, hanya dibutuhkan ongkos tak lebih dari Rp. 100.000,- untuk bisa sampai ke Bali. Dan memang terbukti.

Naik kereta api gaya baru malam selatan Rp. 35.000,- naik kereta api sri tanjung Rp. 20.000,- nyebrang ferry Rp. 6.000,- bis ke ubung Rp. 20.000,- angkot ke sanur dua kali @Rp. 5.000,- total Rp. 91.000,- di luar biaya makan dan lainnya lho ya…

Saya nggak sepenuhnya backpacker, karena makan dan minum nggak ngirit. Nasi tiga kali (saya selalu makan nasi setiap waktu), vitamin dan suplemen full, beli roti di Holland Bakery, minumnya juga yang mengandung isotonik. 😛 Jadi, nggak ngirit banget juga…

Pilihan untuk naik kereta api juga muncul setelah baca cerita salah satu teman yang mampir di surabaya sebelum terbang ke lombok. Saya juga pengen keliling kota Surabaya terlebih dahulu sebelum sampai Bali. Toh, waktunya masih ada, jumat sabtu minggu yang lalu kan libur.

Dihitung-hitung, total pengeluaran sih hampir sama dengan beli tiket pesawat. Tetapi kan pengalamannya lain, pesawat hanya 1jam 40 menit langsung sampai, saya bisa keliling Surabaya dulu dan ngerasain naik kereta api ekonomi.

Pulangnya, karena sudah capek, naik pesawat. Di tulisan selanjutnya saya akan cerita selama di Surabaya dan Bali.