Keyword Blog Di Google Analytics Sebuah Aset?

Hai… Pagi-pagi saya saya sudah ditanya: Mau pindah aliran ya? Kok nulis soal pribadi? Hehehe, ya enggaklah, saya juga sudah kangen nih nulis yang berhubungan dengan blog. Hanya saja kemarin itu agak susah buat sedikit konsentrasi ketika menulis, jadi ya nulis yang ringan-ringan saja dulu. Hari ini saya kembali mencoba menulis soal keyword yang dimiliki oleh sebuah blog, adakah itu merupakan aset, ataukah bebas saja diketahui oleh umum.

Sebelum ke pembahasan, saya akan sedikit curhat dulu. Dari facebook, semuanya berawal. Saya bergabung dalam sebuah grup yang beranggotakan blogger. Saya add beberapa orang untuk saya tambahkan sebagai kawan. Tiba-tiba, ada salah satu yang barusaja menerima permintaan pertemanan, berkirim surat pada saya, memuji blog ini. Setelah itu, menanyakan berapa harganya jika akan memasang iklan di blog ini.

Tentu langsung timbul rasa bangga dong ya. Pertama, si blogger tersebut dari negara tetangga. Kedua, tanpa usaha, iklan datang sendiri. Wah, hebat nih, pikir saya. Saya lalu jawab bahwa untuk menulis review, standar blog ini dihargai sekian dollar. Kalau banner berapa, dia mengejar. Saya jawab, saya belum pernah menerima iklan banner, silahkan Anda yang pasang harga, kalau cocok, akan saya terima. Sampai di sini komunikasi terputus.

Kemudian blogger tersebut bertanya soal lain: berapa visitor per hari dan berapa page view blog kamu? Saya jawab sekian ratus pengunjung per hari. Page view sekian.

Dikejar lagi: Saya berencana akan pasang banner sekian kali sekian, minta harganya. Trus, tolong ditambahkan alamat email xxx@blabla.com ke dalam Google Analytics, supaya saya bisa melihat statistiknya.

Nah, dari situ, saya merasa ada yang nggak beres. Kalau hanya sekedar untuk melihat berbagai statistik blog seperti Page Rank (valid atau tidak), visitor per hari, page view, angka Alexa dan lain-lainnya, ada banyak alat yang bisa digunakan tanpa harus masuk ke dalam akun Google Analytics seseorang. Ya nggak?

Google Analytics memuat lebih dari sekedar data statistik seperti itu. Ada semua keyword yang diurutkan berdasarkan data terbanyak, yang membawa pengunjung dari search engine menuju blog kita. Dan itu aset blog kita. Dengan susah kita menemukan, owh ternyata kata tersebut yang banyak dicari orang. Masa’ secara sembarangan kita bagi dan ‘Boleh Diintip’ oleh orang lain.

Buat saya, nggak ada masalah mempelajari blog orang lain, toh semua keyword (bahkan semua kata) di blog kan terbuka, bisa di cari diantara tulisan-tulisan yang ada. Pelajari sendiri dong ya, jangan mau enaknya aja dengan ngintip dalemannya Google Analytics saya…

Bagaimana menurut Anda? Apakah akun Google Analytics Anda boleh saya intip? 😉

Perlukah Cetak Tebal Semua Keyword Di Blog?

Dalam salah satu tulisan di blognya yang pernah saya baca, Brokencode menyentil pelaku SEO yang hobinya menebalkan, memiringkan, menggarisbawahi, membesarkan ukuran, dan membuat warna norak norak bergembira di hampir semua keyword yang digunakannya. Pernah lihat blog seperti itu? Atau malah Anda pelakunya?

Pertanyaannya, seberapa efektifkah hasil yang didapat setelah melakukan semua itu?

Tebal sudah. Miring ada. Garis bawah banyak. Ukuran besar beberapa. Warna warni pelangi dipakai. Trus?

Apakah tulisan Anda jadi nomer satu di Google? Ah, itu kan susah. Okelah. Apakah tulisan Anda setidaknya muncul di halaman pertama? Belum juga?

Kalaupun muncul di halaman pertama. Berapa banyak yang mengklik tulisan Anda dibanding yang lain, yang sama-sama ada di halaman pertama?

Jikapun tulisan Anda di klik, setelah itu apa?

Saya nggak akan terlalu jauh membahas pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan. Balik lagi ke topik, mengapa harus tebal, miring, garis bawah, dan berpelangi?

Lho, memangnya ada cara lain yang lebih efektif dalam SEO?

Entahlah, saya sendiri nggak tahu. Belum memutuskan bereksperimen membuat jenis tulisan seperti itu dan membandingkannya dengan teknik lain. Tentu saja, bisa jadi cara itu cukup ampuh, terbukti ada juga pengikut alirannya.

Tapi saya tidak sedang membicarakan sisi SEOnya. Saya hanya merasa kok menulis dengan cara itu terkesan kurang profesional aja.

“Huuuu, enak aja lo ngomong. Gw kan blogger, bebas, suka suka gw dong.”

Fine. Itu kalimat yang memang saya tunggu. Saya menulis nggak sedang menyalahkan, kok. 😉