Kaget Gempa di Klaten

12 September, 23:38 wib. Saya belum terlelap tidur. Masih mendengarkan lagu-lagu di iPod. Tiba-tiba rumah bergetar hebat. Gempa! Saya langsung bangun dan membuka pintu. Seluruh anggota keluarga ikut keluar rumah. Kentongan mulai dipukul dari sudut-sudut desa.

Dikasih kesempatan juga saya akhirnya merasakan gempa yang mengguncang daerah Bantul, Klaten, hingga terasa di Sleman dan Purworejo, padahal dulu sewaktu 26 Mei 2006 gempa meratakan rumah dengan tanah, saya ada di Jakarta.

Rumah yang saya tiduri malam ini adalah rumah baru yang dibangun pasca runtuh saat gempa 2006. Syukurlah, dengan adanya gempa tadi sebesar 5 SR, kondisi rumah baik-baik saja. Saat terjadi gempa, semua anggota keluarga sudah paham cara menyelamatkan diri. Keluar dari rumah, menghindari bangunan, pohon dan tiang atau benda yang bisa rubuh terkena goncangan. Ketika sudah yakin nggak ada gempa susulan dalam waktu dekat, baru semuanya masuk kembali ke rumah.

5 SR nggak terlalu kenceng sepertinya, karena saudara-saudara hampir rata-rata berkomentar: “Ah, biasa aja tadi.”

Doh, padahal saya udah deg-degan banget karena rumah sampai goyang-goyang. Mudah-mudahan sih nggak ada gempa susulan lagi, soalnya saya ngantuk dan butuh tidur. :p

Rekor Mudik Baru, Jakarta Klaten 30 Jam

Siapa sih dulu ya yang paling pertama memulai tradisi mudik? Ada yang tau asal usul atau cerita sejarahnya? Kenapa sekarang ini seolah menjadi hal yang wajib untuk balik ke kampung halaman ketika merayakan Idul Fitri?

Saya sendiri, merasakan berbagai macam duka cita sepanjang perjalanan pulang ke Klaten setiap tahunnya. Mulai dari jaman dulu ketika masih harus bersusah payah umpel-umpelan naik kereta api bersama pemudik lainnya, sampai saat ini sudah bisa menikmati jalan sendiri bersama keluarga.

Tahun ini, tercipta lagi rekor perjalanan baru: 30 jam waktu tempuh Jakarta – Klaten! Padahal di hari-hari normal hanya dibutuhkan tak lebih dari 10 jam.

Penyebab utamanya adalah waktu libur yang relatif sama dan mepet dengan hari raya. Libur resmi adalah mulai hari Rabu, 8 September. Hari Selasa 7 September masih masuk kerja. Jadi ketika keluar rumah Selasa malam jam 19.00, jalanan penuh dengan lautan sepeda motor dan mobil yang hendak menuju tujuan yang sama: Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Untunglah, meski harus 30 jam di jalanan, saya dan keluarga menikmatinya dengan gembira. Jika jalanan sudah macet dan nggak gerak sama sekali, lebih baik menepi dan istirahat. Gelar tiker, keluarin bantal, dan tidur. Camilan dan minumal bekal perjalanan yang disediain dari rumah pun tak cukup, berhenti beberapa kali untuk jajan dan makan.

Meski telat, akhirnya tadi sampai juga di Klaten dengan selamat. Sekarang kumpul dengan keluarga besar, dan saatnya keliling silaturahmi ke tetangga dan sanak famili. Mohon maaf atas segala khilaf.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431H buat semua teman blogger yang merayakan! Cerita apa yang menarik tahun ini?

Kenapa Saya Suka Mudik Ke Klaten

KlatenHampir selama satu bulan blog saya menjadi agak sedikit terbengkelai, tidak terurus dengan semestinya. Iya, iya, pasti ada yang protes, masa terbengkelai tetapi jumlah postingannya lebih dari 25 buah dalam sebulan! Hampir semuanya postingan terjadwal. Semua sudah saya set jauh-jauh hari sebelum saya harus mengerjakan tugas lainnya dan persiapan mudik ke klaten.

Wah, masih ada yang protes lagi tuh: trus, nyatanya masih bisa jawab komentar yang masuk! Kalau soal komentar, saya memang usahakan sebisa mungkin membalas komentar terlebih dahulu ketika saya memiliki waktu untuk online. Itu prioritas utama saya. Saya ‘curi-curi’ waktu buat membalas komentar.

Sejak pertengahan puasa, saya sudah sedikit demi sedikit mempersiapkan kebutuhan untuk mudik. Termasuk menjadwalkan semua postingan blog supaya tetap terlihat update setiap hari, padahal yang punya sedang senang-senang mudik ke Klaten.

Mudik tahun ini agak berbeda dengan tahun-tahun yang lalu. Rencana dari awal sudah setengah-setengah: pengen mudik tetapi dana terbatas, nggak mudik juga gimana, soalnya simbah sudah semakin tua, pasti bahagia jika cucu-cucunya bisa berkumpul di hari raya.

Akhirnya last minute saya dan keluarga memutuskan untuk mudik. Hari Sabtu tanggal 19 September 2009 jam 13.00 kami baru berangkat. Dan akhirnya terjebak macet di Cikampek selama 4 jam! Untungnya, setelah itu jalanan lumayan lancar.

Memang lain rasanya menghabiskan libur hari raya di tanah kelahiran, Klaten. Meskipun tidak seluruh keluarga besar bisa pulang dan berkumpul tahun ini, tetapi setidaknya hampir sebagian besar bisa bertemu. Jika bukan dalam moment seperti itu, mungkin kami tidak akan bertemu muka. Kesibukan masing-masing keluarga menyebabkan tali silaturahmi tidak bisa terjalin dengan sempurna. Saatnya hari raya untuk bertemu.

Sehari setelah Lebaran, waktunya untuk berkunjung ke rumah saudara. Banyak sekali yang harus dikunjungi: kakaknya nenek dan kakaknya kakek [Budhe-nya Papa], adiknya nenek dan adiknya kakek [Bulik-nya Papa], sepupu-sepupu Papa yang lebih tua, sampe sodara-sodara lain yang meskipun secara hubungan darah sudah jauh, tetapi terhitung akrab.

Yang paling membuat saya suka mudik ke Klaten adalah: Piknik dan makan! Saya dan adik-adik suka jalan-jalan meskipun bukan ke tempat-tempat objek wisata yang terkenal. Hampir setiap tahun kami berganti-ganti tempat tujuan wisata seperti Parangtritis, Candi Prambanan, Candi Borobudur, Malioboro, Tawangmangu, dan yang lokal Klaten seperti lihat bulus jimbung, Jali, Rowo Jimbung, Deles Indah, dan pemancingan Janti.

Makanan yang sering saya cari ketika mudik ke Klaten antara lain Soto Palang [depan Klasis], ayam panggang Anggraini, gudangan, dawet, gudeg komplit, kripik ceker, belut goreng, tahu bakso, dan jenang trasikan.

Kemarin saya ke Tawangmangu [Karanganyar] ketika mudik ke Klaten. Suasananya sangat ramai, penuh dengan manusia. Agak nggak nyaman, karena harus berdesak-desakan dengan orang lain untuk mendekati air terjun. Tetapi sebanding kok, usaha dengan hasilnya. Foto-foto yang saya dapat pun banyak. Saya akan upload di facebook. Ingin melihat foto lainnya? Add facebook saya.