Ketika Tulisan Di Salin Tempel

Dua hari yang lalu saya menulis sebuah pertanyaan “Apakah yang akan Anda lakukan jika tulisan Anda di salin tempel di sebuah blog yang jauh lebih populer dari blog Anda?

Saya bertanya hanya sekedar ingin tahu saja jika Anda mengalami hal tersebut. Tentu saya bertanya karena saya telah mengalami sendiri. Beda kasusnya, tak seperti biasanya tulisan saya di salin tempel. Jika selama ini saya juga selalu membiarkan saja, kemarin agak sedikit geram.

Tapi membaca masukan dari Mas Rismaka, saya akhirnya jadi melupakan masalah itu. Ya sudahlah. Memang sudah terjadi, mau diapain lagi? Meski awalnya saya merasa permintaan maaf melalui email saja belum cukup, ternyata memang lemah sekali masalah kopi paste dan bajak membajak ini.

Apa iya ya, saya harus berbangga hati sebuah tulisan saya mendapatkan apresiasi yang tinggi dari orang lain, meski tanpa adanya pengakuan bahwa tulisan tersebut hasil karya saya?

Terimakasih buat teman-teman lain yang sudah memberikan masukan melalui kolom komentar: Dheny Ghasner, Budiastawa, Iskandaria, 2R, Mandor Tempe, Dewa Bantal, Marsudiyanto, Nanang, Rime, dan Kang Yudiono. 😉

Pro Dan Kontra Duplicate Content

Banyak yang menyarankan untuk menghindari duplicate content, meskipun ada juga yang tidak peduli dengan hal itu. Duplicate content tentu erat hubungannya dengan yang sering kita sebut copas, copy paste.

Untuk beberapa blogger, menulis bukanlah hal yang sulit. Hanya berbekal komputer dan segelas kopi panas, beberapa tulisan dapat dihasilkan. Tetapi tidak sedikit yang gagal menulis untuk blognya. Jangankan untuk update setiap hari, seminggu sekali saja membutuhkan usaha ekstra keras membuat sebuah tulisan yang layak dibaca oleh orang lain.

Karena sulitnya menulis itulah, praktek copy paste yang menghasilkan duplicate content menjadi marak di dunia maya. Mudahnya cara mendapatkan tulisan dalam tiga langkah praktis: mencari dengan kata kunci tertentu di search engine, mengkopi, dan ‘memastenya’ [entah kata tersebut tepat atau tidak, hehe..] di halaman blog, menjadikan duplicate content menjadi sulit dihindari.

Kita tidak bisa setiap saat memantau, apakah tulisan kita ‘dicuri’ atau tidak oleh orang lain, meski ada alat yang dapat mendeteksinya seperti di website copyscape. Praktek menggandakan sesuatu adalah hal yang sudah dianggap wajar di negara kita, padahal hak cipta [katanya] dilindungi oleh Undang-Undang.

Duplicate content menjadi sebuah hal yang mengkhawatirkan, karena beberapa menyatakan bahwa mesin pencari tidak menyukai hal tersebut. Mereka tidak mau menampilkan hasil pencarian dimana keseluruhan halaman adalah tulisan yang sama. Mereka mau memberikan informasi yang berguna bagi pencarinya.

Lantas, bagaimana jika tulisan kita ternyata ada yang mengkopasnya? Mesin pencari konon mampu membedakan mana tulisan yang asli dan mana yang tukang kopinya. Mereka memiliki rekaman halaman mana yang terlebih dahulu mereka indeks, sehingga yang ‘belakangan’ membuatnya dianggap sebagai halaman tiruannya, duplicate content. Halaman duplicate content memiliki kemungkinan untuk tidak diindeks oleh mesin pencari.

Untuk yang kontra dengan duplicate content, mereka menyarankan menghindari sejauh-jauhnya praktek kopi paste tulisan orang lain.

Tentu saja ada yang pro dengan duplicate content. Mereka tidak terlalu khawatir jika tulisannya disebarkan kembali oleh orang lain. Biasanya dengan syarat memberikan link kepada sumbernya.

Saya sendiri berada pada dua posisi. Tidak ingin tulisan saya diambil sembarangan oleh orang lain. Tetapi juga tidak terlalu khawatir jika ada yang menggunakan tulisan saya di blog mereka. Beberapa blogger bahkan malah menambahkan fasilitas semacam fungsi ‘kopi paste’ jika ingin menggunakan tulisannya pada blog lain. Tentu disertai dengan credit link.

Sebutan pro pada duplicate content dalam diri saya di satu sisi mungkin agak kurang tepat, artinya, saya menyarankan sebaiknya menghindari mengkopi paste tulisan milik orang lain, tetapi jika memang ada yang mau menggunakan tulisan saya pada blog Anda, saya mempersilahkannya selama memberikan link kepada isnuansa.com. Dengan demikian tetap mengakui saya sebagai penulis aslinya. Untuk search engine, saya percaya bahwa mereka pintar membedakan mana yang asli dan mana yang mengkopi.

Toh, sebagai pemilik tulisan yang asli, kita tidak bisa menghindari tulisan kita diambil oleh orang lain [Bisa sih, dengan menggunakan plugin/alat anti kopi paste, tetapi saya belum tahu caranya]. Biarlah search engine yang menentukan hasilnya. Meski saya agak khawatir juga karena pernah membaca sebuah tulisan hasil kopi paste posisinya di search engine lebih unggul daripada website aslinya.

Pilihan ada di tangan Anda, jika tidak mau tulisannya dikopi semena-mena oleh orang lain, coba temukan tukang paste tersebut dan melaporkannya pada search engine dengan fasilitas report as spam. Mudah bukan?

Pernahkan tulisan Anda dikopi paste oleh orang lain sehingga menghasilkan duplicate content?

——————————————————-

Tulisan lain yang perlu Anda baca: