Masak Bareng Chef Bara

Emangnya bisa masak? Hehe, kalau cuma masak mie instan dan nasi goreng sih selama ini sudah terbukti bisa. Tapi, kalau masak yang lainnya belum pernah. 😆

Masak bareng chef Bara Pattirajawane
Siapa bisa nolak hasil masakan Chef Bara?

Paling banter, selain nasi goreng, saya bisa masak sayur bening bayem sama toge. Itupun terpaksa, karena konon katanya, itu baik untuk kesuburan. Pasangan yang pengen cepet-cepet dapat momongan, harus sering makan toge, kata orang-orang. Jadilah saya kalau mampir ke Car*four, belinya bayem sama toge. Entahlah benar atau tidak, nyatanya nggak sampai tiga bulan sejak saya nikah, langsung cespleng.

Balik lagi ke hasil masakan Chef Bara. Enak. Bikin sate dengan microwave. Cuma butuh waktu 15 menit doang buat manggangnya. Kesimpulannya sih, jadi pengen beli alatnya, hahaha… Bikin bumbu olesnya cuma bawang putih, bawang merah, ketumbar dan garam, dihaluskan dengan food processor, trus ditumis dan dioleskan ke satenya. Dibakar di dalam microwave dengan fungsi grill selama 15 menit. Dan bumbu kacangnya dibikin dari selai kacang botolan! Enak bener, nggak repot sama sekali.

Masak bareng chef Bara

Habis ngerasain hasil masakan chef Bara, saya malah jadi diajakin masak bareng. Nggak masak sih sebenernya. Tapi bikin cupcakes. Walaupun sebenernya saya nggak napsu kalau disuruh makan cupcakes. Toppingnya yang berupa cream itu yang saya nggak suka.

Masak bareng Chef Bara

Yang namanya ilmu, meski nggak bisa langsung diterapin, nggak ada ruginya belajar. Bikin kue itu suka malesnya gini: “Ah, mending beli aja sepotong paling harganya nggak mahal, dan nggak perlu repot-repot bikin sendiri”. Kalau pakai microwave masaknya, ternyata jadi nggak repot ya. *Dipentung Gie, karena nggak boleh pinginan*

Masak bareng chef Bara

Dan waktu menghiasnya, dibantuin nih sama tiga anak-anak. Anaknya siapa? Entahlah. Anak saya kan masih diperut. *elus-elus*

Nyobain Pancious Pancake di Senayan City

Makan malam di luar berdua untuk pertama kalinya dengan pasangan setelah menikah, baru tadi malam kami lakukan. Bukan, bukan karena saya malas masak. Eh, tapi iya juga ding. Agak malas masak karena penggorengan yang saya beli kekecilan. 😆

Meluncurlah saya ke Senayan City. Langsung naik ke lantai 5 dan milih Pancious Pancake. Saya pesan Blueberry Cheese double (1 pancake original, 1 waffle original dan vanilla ice cream) IDR 39.000, minumannya Fruit Cocktail IDR 35.000. Pasangan pesan Coco Baileys double (2 waffle original dengan vanilla ice cream) IDR 44.000 dan minumannya Mojito Ice Tea IDR 30.000. Belum termasuk pajak 10,5% (angka yang agak aneh) dan service 5%.

Udah ngiler, padahal Blueberry Cheese-nya itu punyaku!
Fruit Cocktailnya segede gaban. 🙂 Bandingin dengan ukuran tangan saya..
Blueberry Cheese, 1 pancake original, 1 waffle original, plus vanilla ice cream. NYAM!

 

Meski saya nggak begitu suka buah-buahan, saya justru pesan pancake dengan topping saus blueberry. Asem banget untuk ukuran saya, tapi rasanya jadi seger berpadu dengan rasa kejunya. Es krimnya agak standar tapinya.

Coco Baileys punyanya Gie Wahyudi, 2 Waffle original plus vanilla ice cream. GUEDE!
Sisa-sisa kerakusan...

 

Keempat menu di atas adalah yang direkomendasikan sebagai pilihan di Pancious. Buat perut saya sih, ukurannya kegedean. Terbukti, nggak bisa habis meski rasanya enak. Kapan-kapan mau ke sana lagi ah, nyobain menu lainnya.

Trus, ada yang mau bantuin saya ngasih resep sederhana, gampang dan cepet dimasak nggak? Nanti ada kejutan buat yang mau…

Kuliner Ketika Mudik, Wedang Ronde dan Teh Poci

Wedang Ronde

Teh Poci

Baru ngerasa keren kalo nongkrong di rumah makan mewah, nggigit steak, atau ngunyah sushi? Ya nggak masalah kalau kantong Anda tuebel. Buat saya yang belom sanggup makan begituan sehari-hari, yang dicari ya makanan yang murah meriah sahaja. 😀

Waktu mudik kemarin, ada dua yang saya nikmati. Dua-duanya sebenernya minuman sih, bukan makanan. Yang satu Wedang Ronde, dan satu lagi Teh Poci.

Wedang Ronde, seporsi cuma limaribu rupiah. Wedang Ronde berisi ronde (bulatan ketan), kacang goreng tanpa kulit, dan potongan roti tawar dalam air rebusan jahe dan sereh. Dimakan panas-panas, hmmm, yummy!

Yang kedua adalah Teh Poci. Sebenernya ya sama saja dengan Teh biasa, cuma dibikinnya di dalam Poci, bukan di teko plastik atau di dalam gelas beling. Dan minumnya dengan gula batu, bukan gula pasir. Sambil lesehan dan ngobrol, pasti lebih asyik.

Saya ketemu dengan dua teman dari twitter sewaktu di Klaten, @koestomo dan @sajakrerindu. Ngobrol ngalor-ngidul tentang dunia online, yang memperkenalkan kami. Nggak ada yang saya sukai selain kegiatan-kegiatan yang membumi seperti itu.

Makanan atau minuman apa favorit Anda ketika mudik?