Sulit Menulis Tanpa Inspirasi Orang Lain

Beberapa teman bertanya, kok saya punya banyak waktu menulis? Entahlah. Saya sendiri berpikir, saya ini tak pandai menulis. Menulis hanya bisa jika ada pemicunya. Ada inspirasi dari tulisan orang lain. Jika saya membaca, maka saya bisa menulis. Sebaliknya, tanpa membaca, saya tak bisa menulis apa-apa.

Seringkali, memang pemicunya hanya sepele. Hanya ada satu kalimat yang saya baca, memunculkan ide untuk bisa menulis hingga 200 kata, atau bahkan mungkin lebih. Masalahnya, mencari kalimat yang bisa dijadikan sebuah inspirasi untuk saya tulis, itu yang susah. Sudah membaca puluhan judul tulisan orang lain, sudah menghabiskan banyak waktu, tetap saja belum ketemu ide awal untuk saya memulai tulisan sendiri. Tapi, terkadang juga inspirasi datang beruntun. Dari dua atau tiga tulisan yang saya baca, muncul juga dua atau tiga tulisan yang bisa saya buat. Makanya, tulisan saya bisa beberapa dalam waktu singkat, karena kalau tidak langsung dieksekusi saat itu juga, idenya bisa langsung menguap, dan tak jadi tulisan.

Dan kalau ditanya dari mana saya dapat inspirasi terbanyak? Ya dari tulisan blogger lain. Itu sumber utama saya. Entahlah, saya sulit terinspirasi dari berita televisi yang saya lihat, cerita teman yang saya dengar, atau koran yang saya baca. Mungkin tulisan blogger lain terinspirasi juga dari televisi, teman atau koran, tetapi karena bahasa bertutur blogger lain dengan media-media tersebut, saya baru bisa terinspirasi jika membaca tulisan blogger lain. RSS Feed merekalah sumber ide tulisan saya. Sampai saat ini masih ada hampir 500 blog yang saya daftarkan, meski tak semuanya yang hingga kini aktif menulis.

Kalau Anda, dari mana inspirasi menulisnya?

~~~

Oiya, sambil pengumuman, besok saya mau ke Bandung, kentjan sama Satrya. Tunggu ceritanya ya…

Lampu Merah Dalam Menulis

Halah. Tiba-tiba saja terlintas sesuatu saat di jalan melihat kemacetan: sebuah hal yang biasa terjadi di Jakarta dan sudah menjadi makanan sehari-hari.

Tapi saya melihat kemacetan itu dari sebuah jembatan penyeberangan tak jauh dari perempatan besar. Kebetulan memang lagi jam mendekati masuk kerja. Saat orang berlomba-lomba mencapai kantor.

Jalanan sebenarnya bisa dibilang lancar. Tetapi ketika lampu merah menyala, tanda kendaraan harus berhenti, tiba-tiba terjadi antrian panjang yang tak boleh melewati garis pembatas jalan.

Nah, kita beralih ke blog.

Bayangkan ratusan mobil yang antri menunggu lampu hijau tadi adalah banyaknya ide yang akan kita tulis. Menyesaki kepala Anda. Menunggu waktu untuk dituliskan ketika lampu hijau nanti menyala sebentar lagi.

Tapi tetap belum bisa ditulis karena sekarang lampunya masih merah. Jadi yang ada hanyalah berdesak-desakan, mencari posisi supaya berada di depan, dan ketika lampu hijau menyala siap untuk meluncur duluan.

Pernahkah Anda mengalaminya? Apa lampu merah Anda dalam menulis? Ingat, lampu merah di jalanan akan berakibat anda melanggar hukum dan ditilang jika menerobos. Jadi jangan menjawab alasannya sibuk, sakit dan kawan-kawannya ya… 😉

Menulis Dengan Gaya Pribadi

Sebelumnya saya mau minta maaf, karena beberapa hari ini nggak enak badan, jadi ‘tugas’ menulis Same Atau New Tab sesuai janji saya minggu lalu agak terlambat tayang. Masih belum selesai mengedit, karena ternyata, agak lama juga ya, memasang link menuju masing-masing blog pemberi masukan.

Oke, saat ini saya mau nulis yang ringan aja dulu. Agak sedikit berhubungan dengan tulisan saya yang lalu, Cara Meningkatkan Page View Blog, dimana Mas Iskandaria memberikan komentar bahwa tulisan tersebut menduduki nomer 1 di SERP, menyalip tulisan Mas Iskandaria sendiri dan Kang Nawar. Jujur, sampai saat ini saya belom ngecek, dan belum tahu kebenarannya. [Anggap saja benar, hehe…]

Meskipun beberapa waktu lalu saya sempat sering menyinggung soal SEO [Search Engine Optimization], bahkan sempat ikutan kontes segala, tapi saat ini saya tidak begitu tertarik lagi. Tidak tertarik, bukan berarti berhenti belajar soal yang satu itu, tetapi sekedar bacaan saja.

Menulis Blog Pribadi

Dari Google Analytics saya menunjukkan, sekitar 60 sd 70% pembaca blog ini datang dari search engine. Sayangnya, bukan menuju pada tulisan dengan tema blogging, tapi pada tulisan saya yang lain yang bereksperimen dan berbau ‘nembak keyword’. Apa artinya? Artinya, ketika saya menulis soal blogging, itu berarti saya nggak terlalu memikirkan soal SEOnya.

Kalo akhirnya saya bisa menduduki posisi yang bagus di SERP, saya juga nggak tahu pasti alasannya. Yang saya pelajari baru-baru ini, bahwa kini search engine lebih tertarik pada unique content. Para pelaku optimasi, biasanya kurang memperhatikan sisi onpage, dimana tulisan yang dibuat, satu sama lain hampir mirip. Nah, kini saya lebih mencoba menulis dengan gaya pribadi. Pake bahasa sehari-hari. Yang membaca blog saya dari waktu ke waktu pasti memperhatikan kalo bahasa saya ‘agak lebih ringan’ dari biasanya.

Kenapa harus gaya pribadi? Pembaca yang loyal, dan tidak menutup pula kemungkinan pembaca baru, jika sudah menyukai gaya penulisan kita, akan tetap berkunjung dan berkunjung lagi ke blog kita karena merasa nyaman. Dengan merasa nyaman, pembaca akan berada di blog kita lebih lama lagi. Buat mereka ‘sibuk’ berada di blog teman-teman. Saya, kok, cenderung menyetujui ‘aliran’ yang mempercayai bahwa Google memperhatikan banyaknya waktu yang dihabiskan oleh pembaca berada di suatu halaman dalam perhitungan algoritma mereka. Sederhana saja: saya sendiripun akan segera meninggalkan situs yang nggak berguna bagi saya.

Bagaimana membuat pembaca sibuk di blog kita? Ya dimulai dari awal itu tadi: tulislah unique content. Pakai gaya menulis pribadi. Buat pembaca nyaman. Lakukan cara-cara yang bisa membuat pembaca membuka halaman lain. Jawab komentar yang masuk. Kunjungi balik pemberi komentar. Dan seterusnya. Hehehe….

Koreksi jika saya salah di kolom komentar, ya!