Blogger Itu Pemalas?

Ini hanyalah tanya yang diajukan pada diri sendiri. Jika ada yang merasa memiliki kesamaan, ya berarti saya tidak sendiri. 😀

Kenapa saya terkesan malas? Setidaknya ada 3 alasan utama yang dapat dikategorikan sebuah kemalasan.

1. Tidak Produktif
Awalnya, saya menganggap aktifitas saya sebagai facebooker yang menyebabkan produktifitas saya menurun. Mantengin status teman demi mengejar informasi si A lagi ngapain, si B yang kemarin baru putus sudah mendapat ganti atau belom, dan si C pergi ke mana aja hari ini. Setelah bosan, saya kembali lagi ngeblog. Dan tugas-tugas harian saya menjadi sedikit terbengkelai. Menundanya sampai limit deadline, tentu saja bisa dikatagorikan tidak produktif.

2. Tidak Olahraga
Jumlah jam yang saya habiskan per hari untuk duduk di depan komputer, jauh lebih besar dari pada jumlah keseluruhan aktifitas yang mengeluarkan keringat. Seperti mencuci, berjalan kaki, membersihkan rumah dan lain sebagainya.

3. Tidak [Bisa] Bangun Pagi
Tidur larut malam, atau bahkan pagi hari, ya tentu saja tidak dapat memaksakan diri bangun pagi-pagi sekali sebelum ayam tetangga matok makanan lebih dulu.

Belom lagi malas-malas dalam skala kecil seperti malas makan dengan alasan ‘tanggung, bentar lagi juga selesai’ padahal masih dua jam lagi, malas mandi kalo hari libur dan malas ngangkat telpon yang nggak penting yang nanya lagi di mana, ngapain, sama siapa. 😆

Dengan pekerjaan ‘tambahan’ Anda sebagai blogger, apakah Anda semakin malas?

Awas ya, kalo jawabannya jadi makin rajin: menulis!

Ngeblog Itu Mudah

Ngeblog itu mudah. YA. Anda dapat memiliki sebuah blog dengan cepat. Bahkan jika Anda harus memulainya dari awalpun, sangat gampang membuat blog.

Ketikkan kata kunci “cara membuat blog” dan Anda akan dituntun untuk prosesnya. Tinggal pilih, mau di blogger, blogdetik, multiply, dagdigdug atau di wordpress. Jadi sudah.

Tinggal menulis saja. Mengisinya dengan tulisan kita. Menulis dan terus menulis. Cukup.

Wow, ternyata saya salah. Ngeblog tidak mudah. Saya meralat ucapan tadi.

Banyak tulisan sudah saya buat, tetapi kok hanya sedikit yang mau baca. Yang berkomentar apalagi, bisa dihitung dengan jari satu tangan. Page view rendah. Bounce rate tinggi. Pelanggan RSS belum ada. New visitor rendah. Return visitor jarang. Page rank nggak dapet dapet. Alexa puluhan juta. Di manakah letak kesalahannya?

Ya di persepsi tadi!

Saya menganggap ngeblog itu mudah, padahal tidak!

Saya memiliki kegiatan utama yang harus terlebih dahulu dikerjakan. Ada keluarga yang memerlukan kehadiran dan perhatian kita. Ada orang orang di sekeliling kita yang perlu bantuan. Ada blog yang harus dikembangkan. Semua menuntut waktu kita.

Manakah yang menjadi prioritas, tujuan ngeblog kita yang harus disesuaikan. Sampai saat ini saya kagum dengan bloger yang mampu memanage waktunya dengan baik sehingga semuanya berjalan lancar.

Untuk membuat ngeblog menjadi mudah, dan bukan sebagai beban, kita harus kembali kepada tujuan ngeblog itu sendiri.

Jangan hanya terpaku pada standar atau ukuran keberhasilan bloger lain. Mungkin memang satu dua ada bloger yang hebat di segala sisi. Tetapi fokus pada tujuan ngeblog akan membuat ngeblog menjadi sedikit lebih mudah. Jika targetnya hanya membuang racun pikiran, tak usah risau soal PR. Alexa apalagi.

Saya cukup senang dengan mampu memproduksi tulisan hampir setiap hari, dan hanya mendapatkan komentar di bawah 10 per tulisan, dengan harapan apa yang menjadi cita cita saya dua tiga tahun ke depan dapat terwujud.

Bagaimana dengan Anda, ngeblog itu mudah atau tidak?

PS: Jangan tanya cita cita saya.

Menghapus Tulisan Blog

Bagaimana Anda menulis postingan Anda? Pernahkah terpikir untuk membuang tulisan Anda yang sudah jadi?

Saya baru saja mengalaminya. Satu buah postingan yang lumayan panjang, sekitar 400 kata, sudah selesai dan tinggal dipublish, urung saya terbitkan. Awalnya, sudah saya jadwalkan. Begitu saya punya tulisan baru, saya undur yang itu. Begitu seterusnya.

Lama lama saya berpikir, apa yang salah ya? Kok saya nggak puas terus dengan tulisan itu?

Tapi, akhirnya saya merelakan tulisan tersebut lebih baik di delete saja. Buang.

Saya jadi ingat, dengan adanya kamera digital, kita makin mudah nggak puas dengan hasil foto yang sudah kita buat. Jeprat jepret, jeprat jepret, puluhan kali, paling paling satu doang yang dipakai.

Dan kita nggak pernah sayang melakukannya.

Kenapa juga harus sayang untuk membuang satu tulisan kita jika memang kita tidak puas dengan hasilnya.

Kualitas tulisan haruskah dijaga dengan cara tidak menayangkan semua hasil karya tulis kita?

Bagaimana pendapat Anda?