Guru Go Blog

Guru Go Blog

Ada beberapa orang guru yang saya kenal di blogosphere. Yang pertama kali saya kenal adalah Bapak Guru Abdul Ghofur [SMAN 11 Surabaya] yang blognya mempunyai Tagline: Menulis Itu Ejakulasi Dini. Empat tahun lalu pertama kali beliau memberikan komentar di blog saya. Setelah itu saya mengenal Pak Sawali Tuhusetya, blogger yang kini mengajar Bahasa Indonesia di SMP 2 Pegandon Kendal. Bapak Guru selanjutnya adalah Pak Marsudiyanto, guru Matematika di Kendal yang juga sangat produktif dalam menulis. Pak Guru Edi PSW [Edi Purwanto Silo Wardoyo] adalah daftar selanjutnya. Guru SMA di Surabaya ini, meski kini jarang menulis, beberapa minggu terakhir ini sempat memberikan komentarnya di blog saya. Dan yang terakhir, kini paling aktif, adalah Pak Guru Wandi “Sukoharjo” Rozaq Guru Matematika di SMPN 3 Singorojo Kendal.

Sebenarnya tidak terlalu penting berapa banyaknya guru yang saya kenal di dunia blog ini, tetapi setidaknya sudah ada beberapa contoh yang bisa kita jadikan cermin, bahwa guru tidak juga ‘tertinggal’ terlalu jauh dalam hal teknologi informasi di Indonesia. Memang, kita tidak bisa menutup mata bahwa jika dilakukan prosentase, angkanya akan sangat kecil, jumlah guru yang sudah ‘melek’ teknologi informasi ini. Bahkan berdasarkan pengakuan Pak Sawali dan Pak Wandi, yang sudah mulai aktif melakukan getok tular ilmunya kepada sesama guru dengan pelatihan membuat blog, hampir sebagian besar bahkan belum memiliki akun email!

Terbatasnya kemampuan guru dalam mengakses [apalagi menggunakan] teknologi informasi yang masih memprihatinkan ini adalah cerminan guru di Pulau Jawa, yang boleh dikatakan lebih maju dari daerah lainnya di Indonesia. Bisa kita bayangkan bagaimana dengan guru yang berada di daerah lain yang lebih minim fasilitas pendukungnya untuk mengakses teknologi internet!

Meski demikian, bukan berarti kita lantas tidak boleh mempunyai impian tentang bagaimana seorang guru di Indinesia di masa depan dapat memanfaatkan dengan maksimal adanya teknologi informasi dan komunikasi ini. Sudah seharusnya saya, Anda dan kita semua sebagai seorang blogger juga ikut memberikan masukan agar impian tersebut dapat diwujudkan.

Entah sebuah kebetulan atau tidak, beberapa waktu yang lalu saya mengikuti sebuah kontes bagi blogger, yang diadakan oleh LG Electronics Indonesia bertajuk Live Borderless, dimana ide saya “Memberdayakan Ekonomi Rakyat” harus mengakui keunggulan ide blogger lain “Blog Sebagai Syarat Mutlak Calon Guru”. Sebuah ide yang sangat brilian: dimana seorang Guru diharapkan memiliki sebuah blog yang dapat menunjang aktivitas pemelajaran dengan lebih efektif, interaktif dan sekaligus lebih kreatif. Bagi siswa didikpun, menjadikan sistem belajar tidak membosankan.

Sayangnya, ada sedikit kerisauan saya terhadap para pengambil kebijakan di negara ini [dan juga pro kontra di dalam masyarakat sendiri] yang berselisih paham tentang bidang pendidikan. Alih-alih memikirkan bagaimana siswa di Indonesia menjadi lebih cerdas dan berprestasi, mereka masih berkutat di perlu tidaknya diadakan Ujian Nasional.

Oke, balik lagi ke permasalahan guru go blog. Tema Bloggership 2010 yang mengangkat isu mengenai bagaimana para pendidik dan institusi pendidikan dapat memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk menyampaikan materi pelajaran secara lebih hidup dan kreatif, sangat cocok jika guru menggunakan BLOG sebagai medianya. Blog yang pada awalnya merupakan diary online, seiring perkembangannya tidak lagi sekedar dijadikan sebagai media ‘curhat’. Penulisan kreatif, artikel berbobot, fiksi dan seni lainnya, semua dapat diterbitkan melalui blog. Semakin mudahnya menggabungkan tulisan, gambar dan video dalam blog, juga akan semakin menjadikan penyampaian materi lebih kreatif dan interaktif.

Tidak hanya guru, ada pula seorang dosen FKIP UNLAM Banjarmasin yang saya kenal juga memiliki blog dan telah menggunakan blognya untuk memberikan ‘pelajaran’ bagi semua pembacanya –tidak hanya mahasiswanya-, khususnya ilmu tentang menulis. Beliaulah ‘guru’ saya dalam menulis. Blog bisa dikatakan sebagai media yang tepat, karena bahan ajar tidak saja dapat dipelajari oleh anak didiknya saja, tetapi bisa diakses oleh siapapun yang membutuhkan.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana mensosialisasikan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi ini kepada seluruh guru di Indonesia agar mereka semua memahami pentingnya hal tersebut? Siapa yang paling berkompeten untuk menyelesaikan tugas itu? Apakah Menteri Pendidikan di mana para guru bernaung di bawahnya, atau tugas Menteri Komunikasi dan Informasi yang harus memberantas ‘buta kominfo’ di negeri ini? Atau hanya menunggu saja upaya getok tular dari guru yang telah go blog dan blogger lainnya yang memiliki kepedulian pada hal ini di Indonesia?

Bukan tugas yang ringan untuk mewujudkan impian di atas. Tetapi tidak juga harus dimulai dari awal. Banyak sekali sumber-sumber informasi yang bisa dijadikan referensi bagi guru yang akan memulai ngeblog. Mungkin sebagai saran dari saya, bisa dimulai –seperti yang teman saya M. Pieter Silitonga usulkan- dari adanya kebijakan yang mewajibkan guru memiliki blog sebagai salah satu syarat memperoleh sertifikasi. Hal itu pastinya akan memacu guru sebagai seorang individu ‘mengejar ketertinggalan’ pengetahuan di bidang teknologi informasi dan komunikasi.

~~~

Tulisan ini saya buat untuk mengikuti Program Microsoft Bloggership 2010, yang sebelumnya telah menobatkan Anandita Puspitasari menjadi pemenang tahun lalu.

Gambar oleh Andi Bagus.