Mengejutkan!

Mungkin itulah satu kata yang bisa mewakili hidupku dalam minggu ini. Aku sama sekali nggak pernah membayangkan bakal seperti itu jadinya. Lima laki-laki sekaligus yang menjalin cerita satu dengan yang lain.

Weekend aku habiskan saja di depan komputer dengan handphone tergeletak di atas tempat tidur. Silent, dan sengaja tidak digetar pula. Ingin terhindar saja dari hiruk pikuknya dunia.

Delapan missed calls adalah sebagai hasilnya. Semua dari Alam. Aku balas dengan singkat: Lg mls.

Karena aku tahunya sudah lewat tengah malam dan Alam telponnya dari jam delapanan, ya nggak ada reaksi apa-apa setelah itu. Mungkin Alam juga sudah tidur ketika aku bales sms.

Belom juga jam enam pagi, sudah menyusul sms dikirim: Kenapa nda ko angkat telponku semalam? Tolong telpon dong, ada yang penting mau aku sampaikan.

Wah, bukan kebiasaan Alam untuk sms pagi-pagi buta. Juga bahasanya agak aneh, biasanya lo gue. Tetapi karena semalam dia telpon berkali-kali dan nggak sempat aku angkat, ya terpaksa aku balas sms singkat: Ga ada pls.

Tanpa nunggu lama, ada balasan: Kan bisa nanti dari kantor.

Aku yang sedang kesal karena terganggu pagi-pagi langsung bales: Aku hari ini nggak masuk, mau kencan dengan cwo di MKG

Dan kesabaran Alam pupus sudah, karena handphoneku langsung bergetar tanda adanya panggilan masuk.

Selanjutnya adalah kalimat yang langsung membuat mataku terbuka lebar, “Ini Yuni mau bicara!”

Otakku langsung berpikir, inilah waktunya aku harus menghadapi kenyataan, Yuni, istri Alam, telah mengetahui bahwa Alam masih berkomunikasi denganku, mantan pacarnya sepuluh tahun yang lalu.

Ouch, sebuah ‘sarapan’ yang cukup membuat perut kenyang sebelum kencan perdanaku dengan Didi siang ini.

Biar bagaimanapun, aku nggak merasa bersalah atas kejadian pagi tadi. Toh, aku memang hanya berteman dengan Alam. Dan aku yakin Alam mampu meyakinkan Yuni bahwa kenyataannya tidak seperti yang ia bayangkan.

Kejutan kedua adalah kenyataan bahwa penampilan Didi berbeda dengan yang aku bayangkan. Sama dengan foto yang aku lihat selama ini, hanya saja jenggot yang dipeliharanya membuat aku cukup ketakutan seperti melihat teroris yang sekarang ini cukup ramai dibicarakan di televisi.

Meski agak sedikit kecewa, aku tetap mencoba melanjutkan kencan. Satu hal yang membuat point plusnya, Didi sangat tepat waktu dalam beribadah. Hanya saja ada satu pertanyaanku yang nggak bisa dia jawab, “Tadi ketika menghadap Alloh, apa yang kamu katakan? Kok, belum ada lima menit udah nyosor?”

Didi hanya bisa pasrah sambil mengangat kedua tangannya seperti tahanan yang menyerah pada tembakan peringatan. Dan aku tertawa melihatnya.

Awal yang cukup baik, karena Didi juga berusaha mengenalkanku pada tiga orang rekan kerjanya, Atma, Jojo dan Miko. Sebelumnya juga aku pernah berkomunikasi dengan rekan kerjanya yang lain, Danni dan Ari. Berarti Didi adalah sosok yang terbuka. Tidak ada yang perlu ia sembunyikan. Beberapa kali dia juga sudah ‘setengah’ memaksa untuk datang ke rumah pengen kenalan dengan orang tuaku.

Dengan adanya ‘jenggot yang mengejutkan’ itu, aku jadi berpikir ulang. Ditambah kenyataan bahwa di waktu luangnya, dia hanya habiskan untuk menimba ilmu pada para ustad dan mengaji.

Kejutan yang ketiga, masih pada hari yang sama, adalah hilangnya benda yang sudah hampir setengah tahun aku sembunyikan. Benda tersebut ada hubungannya dengan Bagus, mantan pacar yang seharusnya sudah aku kubur dalam-dalam.

Kebodohanku itulah yang mengakibatkan aku malu jika benda tersebut sampai diketemukan oleh orang lain. Seharusnya sudah dibakar, atau dikiloin ke tukang loak, bukan disimpan.

Kejutan selanjutnya, ketika mencoba curhat pada Tata, dia malah sangat marah dan kecewa karena menyimpan rahasia tersebut sekian lama tanpa cerita padanya.

Padahal, mungkin agak lebay, aku belom bisa kehilangan Tata saat ini. Diantara sekian teman dan sahabat, aku paling nyaman curhat sama Tata. Dan Tata amat marah pada Bagus, untung mereka nggak saling kenal.

Tata juga belom lama ngasih kejutan kalo dia sekarang sudah punya pacar baru ABG berumur 17 tahun [what?] bernama Tesa.

Kejutan yang kelima adalah terungkapnya banyak fakta tentang Ryan. Nggak bisa dipercaya!

Ryan sudah punya pacar. Meski belom jelas juga, sudah berapa lama berhubungan. Setahuku dia jomblo, ini pengakuan yang berubah. Awalnya dia ngaku single, akhirnya jelas: double. Tetapi ia bisa menerima perselingkuhan. Wow!

Aku sendiri sepertinya harus tetap meneruskan perburuan. Mencari mangsa yang akan masuk perangkap.