Horas Mejuah Juah!

Tambah lagi satu daerah baru yang saya kunjungi: Sumatera Utara. Meskipun hanya 3 hari dan singgah di beberapa kota saja, tapi mantap kalilah jalan-jalan saya kemarin itu. Tiba di Medan Rabu malam, saya langsung merasakan segarnya jus Martabe sebagai penutup hidangan makan. Lanjut dengan Durian Ucok yang ngantrinya kayak mo beli sembako. Padahal ke sana pas hujan! Kalo cuaca cerah, katanya antrian lebih banyak lagi. Dan, mandi berendam air hangat pas untuk menutup malam itu.

Sarapan pagi di Swiss Belhotel, saya pilih bubur ayam komplit. Dan sebagai ibu hamil, nggak ada salahnya buat nambah kan? Mie campur dengan kuah kental, sepertinya khas Medan, menarik hati buat makan lagi satu porsi. Plus sepiring buah dan secangkir kopi. Selesai sarapan pagi, baru berangkat menuju Kabanjahe, ibukota Tanah Karo buat kerja. Siang hingga malam nggak terlalu menarik saya ceritain, karena isinya ya cuma kerjaan.

Eh, mungkin ada sedikit yang menarik sih, di bagian tari penyambutan yang mirip Tor-Tor di Batak Toba (entah di Karo sama apa beda namanya, tapi gerakannya ya manortor juga), diakhiri dengan saweran uang seratus ribuan. Banyak yang nyawer, saya jadi penasaran dan tanya ke penarinya soal uang saweran. Posisi nari kan ada yang di belakang, ada yang di depan, saya lihat yang paling depan dapat paling banyak, ternyata ya itu rejeki masing-masing, nggak dikumpul dulu baru dibagi rata.

Malam harinya saya nginep di Sinabung, Berastagi, masih di Tanah Karo juga. Baru keesokan harinya jalan-jalan! Tujuan pertama adalah Bukit Gundaling. Dari sini bisa melihat panorama kota Berastagi, Gunung Sinabung dan Sibayak dari atas bukit. Udaranya yang dingin bikin betah. Bisa juga naik kuda atau delman berkeliling dan petik buah jeruk sendiri.

Danau Toba

Dari Gundaling saya menuju ke Tongging. Mampir dulu sebentar di Pasar Berastagi, melihat deretan penjual buah, sayur dan bunga yang segar. Tanah Karo memang daerah tinggi penghasil buah-buahan, sayuran dan bunga di Sumatera Utara.

Air Terjun Sipiso Piso

Air Terjun Sipiso-piso jadi objek wisata selanjutnya. Melalui Berastagi saya menuju ke Tongging. Sempat nyasar dikit ke Simalungun karena sopirnya biasa dalam kota Medan saja, untung langsung ngeh. Untuk ukuran tempat wisata, memang papan penunjuk jalannya sangat minim. Sampailah di Sipiso-piso, tapi nggak sempat turun ke bawah. Bukan karena nggak kuat, tapi berhitung, masih ada tempat lain yang pengen dikunjungi, jadilah cuma foto-foto dari atas.

Kopi Tongging

Makan siang di Sipiso-piso, dengan ikan pora-pora, ikan dari Danau Toba. Lanjut lagi ke Tongging, menuruni bukit hingga sampai di bagian ekor Danau Toba di sebelah Utara. Di Tongging saya menikmati kopi panas di atas keramba di tepian Danau Toba. Nikmat! Tak berapa lama di sana, lanjut lagi perjalanan menuju Parapat.

Melalui Simalungun, menuju Rantau Parapat Kabupaten Labuhan Batu. Masih danau Toba juga yang dilihat, tapi konon kabarnya, di Parapatlah spot terbaik, jadi meski sudah lihat dari Tongging, meski ke sana juga saya akhirnya. Nyari Naniura, ternyata kalau nggak di akhir pekan harus pesan dulu. Makanlah ikan bakar di depan pelabuhan feri tempat kapal menuju Tomok bersandar.

“Kak, Kak, mau nyanyi biar disawer,” kata seorang anak kecil minta persetujuan. Dikasih Rp. 5.000,- di depan, si anak ini nyanyi sepanjang deretan gerbong kereta api tanpa berhenti. Padahal pengamen di Jakarta kalo udah dikasih uang, itu tandanya waktu buat dia menutup mulut! :mrgreen: Karena nyanyiannya panjang juga, ditambahlah Rp. 10.000,- lagi. Seorang anak dengan badan lebih kecil mendekat, “Kak, saya juga mau nyanyi,” rengeknya. Tanpa menjawab langsung dikasih Rp. 10.000,- dan masuk ke mobil. Rupanya, di depan mata saya langsung dipalak sama anak dengan badan besar. Waktu saya buka kaca mobil, beberapa anak mencoba memberi penjelasan. Rupanya dia kakaknya, dan si adik hanya diberi Rp. 2.500,- sisanya masuk kantong kakaknya. Kejam. 😆

Saya meninggalkan Danau Toba yang memberikan kesan indah tapi nggak bersih. Ada hal kecil yang belum terjawab, yakni keberadaan tenda-tenda kecil terbuat dari terpal biru seukuran dua orang yang tertutup rapat meski ada jendela kecilnya, berderet di sepanjang ujung Danau Toba. Tempat untuk pacarankah itu??

Melalui Pematang Siantar, saya mampir membeli Roti Ganda dan Kopi Kok Tong yang terkenal itu. Melanjutkan perjalanan melintasi Serdang Bedagai dan Deli Serdang serta beberapa kabupaten lagi saya lupa, karena kelelahan saya lebih banyak tertidur sepanjang perjalanan. Tiba di Swiss Belhotel Medan lagi sudah lebih jam 23.00. Saatnya tidur.

Keesokan harinya, ada beberapa kegiatan lagi yang harus dilakukan, sehingga keinginan untuk kopdar dengan Helda yang sudah sempat mensyen-mensyenan nggak bisa terlaksana. Tapi saya sempat mencicipi Soto Sinar Pagi, sehingga kedatangan saya di Medan sudah bisa dianggap sah! Pulangnya, tas saya jadi tiga kali ukuran semula karena membawa satu kotak taperwer besar isi durian, bolu meranti, bika ambon Zulaika, satu plastik besar teri medan, kopi siantar dan selai srikaya dari Roti Ganda, serta satu kotak jus Martabe yang isinya dua botol besar. Makjang, patah pinggang ini bawanya.

Senangnya bisa jalan-jalan ke Medan, dan yang terpenting, dedek saya baik-baik saja. Kapan-kapan kita jalan-jalan lagi ya, Dek..