Ketika Kita Bernyanyi

Aku hanya bisa tertunduk ketika gitar itu mulai kau petik.

Seandainya aku masih bisa memilih.
Akan ku pilih engkau sebagai kekasih sejatiku…

Memang tidak semerdu Andi Fadly menyanyikannya untukku. Tapi sudah cukup membuat buluku berdiri sesaat. Aku tahu lagu itu untukku.

Kau pasti dengan sengaja menyanyikannya. Kau tau aku sangat sensitif dan selalu menghayati setiap lagu yang kudengar.

Kau pernah memergoki aku meneteskan air mata kala seorang pengamen di bus kota menyanyikan lagu sedih. Padahal kau tau aku sedang tidur.

Maka kau gunakan kelemahanku itu untuk merayuku. Ya! Aku merasa sekarang engkau sedang meluncurkan rayuanmu.

Tetapi bukan aku namanya jika tidak mudah menguasai keadaan. Dengan cepat kuputuskan untuk ikut bernyanyi walaupun aku tak bisa menjadi suara dua seperti yang biasanya kau lakukan ketika aku yang bernyanyi.

Semoga pipiku kali ini tidak bersemu merah menandakan kegeeran yang terlihat orang lain. Semoga sinyal-sinyal dan medan magnet di udara tidak mengirimkan tanda telah terjadi debaran di dada ini.

Aku nggak bisa terima.

Jangan sampai kebodohanku yang sama terulang kembali.

Cukup.

Tak perlu menyakiti hati sesama lagi.

Maaf, ya!

———————————————————————

No related post.

Sudat Pandang Berbeda; Spri

Terinspirasi dari postingan PakDhe Cholik yang ini, saya akan menceritakan dari sudut pandang yang berbeda.

Saya adalah Pak Slametnya. Alias setap. Apa ya, yang menarik yang bisa diceritakan oleh Pak Slamet, eh, setap? Nggak ada kayaknya.

Diajak ngomong Inggris kaya Pak Slamet, saya pasti akan nyerah duluan. Lebih baik diajak ngomong pake bahasa Jawa aja, wong bos 3 periode mewakili dapil Jawa Timur VIII, daerah kelahirannya PakDhe Cholik kalo nggak salah [meskipun beliau asalnya dari suku Batak].

Beratnya menjadi setap seperti Pak Slamet, selain menjaga nama baiknya sendiri, dia harus menjaga nama baik pimpinannya. Ada yang tidak bisa secara sembarangan di ceritakan, meski dia mengetahui banyak hal tentang pimpinan. Bukan rahasia sih, tetapi sepertinya tidak profesional saja jika ‘terlalu banyak omong’.

Yang pasti, tidak seperti Pak Slamet yang menawarkan makan siang dengan sangat sopan “Bapak ngersaaken dahar punapa?”, saya tidak pernah bertanya! Jika lapar, beliau akan minta. Jika tidak minta, artinya tidak lapar, atau sudah makan di tempat lain, hehehe…

Makanan yang dimintapun paling-paling nasi goreng yang harganya sepuluh ribuan sudah diantar sampai tempat. Minumnya teh tawar atau air putih.

Soal tugas menjadi ‘Akismet’, itu yang paling pokok. Mesti saya kadang bingung juga harus bersikap. Karena saya berasal dari suku Jawa, dimana tidak ada sistem marga, biasanya yang dianggap keluarga ya memang hanya keluarga saja: kakek, nenek, orang tua, adik, kakak, paman, tante dan sebutan keluarga lain.

Bagi orang Batak, setiap marga yang sama, dianggap keluarga. Belum lagi marga A bersodara dengan marga B dan seterusnya. Jadi, meskipun secara darah tidak ada hubungan keluarga, karena marganya sama, kadangkala tamu akan mengatakan: “Saya adiknya”, dan itu sah! Dia tidak bohong, tetapi jangan lantas diartikan sebagai ‘keluarga’ dalam artian hubungan darah.

Untungnya belum pernah ada kesalahpahaman jika saya sebagai ‘Akismet’ salah memasukkan keluarga ke dalam kurungan ‘SPAM’. 😆 Mereka biasanya mengerti karena saya kan menjalankan tugas untuk ‘melindungi’ dari serangan spam.

Enaknya profesi setap ini, saya bisa berhubungan dengan banyak orang sehingga bisa memperoleh banyak ilmu dari sana. Jika hanya Nunik, orang akan bertanya: “Nunik siapa ya?”. Begitu saya sebut Nunik setap Bapak X, segera dijawab: “O… iya, iya…”. Sambil manggut-manggut tentunya. Haha…

No related post.

Menulis Online Atau Ofline?

Sejak saya memutuskan untuk menulis tentang blogging, saya tidak lagi menulis secara online. Semua tulisan saya dikerjakan secara ofline.

Dulu, saya lebih sering mengetikkannya langsung sambil online, meskipun kadangkala saya menulis curhatan secara ofline di handphone. Saya buka blog, dan tulisan langsung mengalir lancar menjadi sebuah postingan.

Ya, karena tulisan hanya berupa curhatan, apa yang ada di kepala dengan mudah bisa langsung dituangkan ke dalam bentuk tulisan.

Kini, tidak bisa lagi menulis sambil online. Banyak sekali bahan bacaan yang musti dipelajari sebelum menghasilkan satu tulisan. Sangat melelahkan. Puluhan judul tulisan dan berbagai artikel dalam bahasa Inggris perlu saya baca terlebih dahulu sebagai bahan referensi tulisan.

Kadangkala, sudah sangat lama dan berpuluh halaman dihabiskan, tidak satupun yang bisa ditulis menjadi sebuah postingan. Jika sudah begitu, biasanya saya malah istirahat sama sekali.

Sumber bacaan saya sebagian dalam bentuk soft copy, sebagian lagi sengaja saya print supaya mata tidak lelah menatap layar komputer terus menerus selama satu hari non stop.

Tumpukan hard copy saya buanyak sekali hingga satu box plastik besar, dan bisa saya baca ulang jika sudah tidak memiliki bahan tulisan lagi. Baca online sana sini sudah mentok, tumpukan lama pun saya bongkar ulang.

Menulis secara online sangat mudah dilakukan jika berupa curhatan. Paling lama hanya memerlukan 30 menit untuk tulisan yang agak panjang, dan bahkan hanya 10 sampai 15 menitan jika tulisan pendek.

Konsentrasi dalam jangka waktu pendek seperti itu tidak akan mengganggu waktu online saya. Membaca email masuk, membuka facebook, membaca bloglines dan lain sebagianya bisa dilakukan setelah itu.

Untuk tulisan blogging, saat ini saya memerlukan minimal satu jam untuk menulisnya. Dan jarang sekali satu kali duduk jadi. Satu minggu lagi bahkan bisa baru benar-benar selesai. Memang membuat judulnya mudah, sekali duduk bisa sampai 5 ide tulisan muncul, tapi menyelesaikannya memerlukan proses.

Jika proses menulis dicampuradukkan dengan waktu online, malah nggak bisa konsentrasi sama sekali. Jadi saya online hanya betul-betul untuk mengupload tulisan, blogwalking sebentar dan mencari referensi, selebihnya saya habiskan untuk membaca dan menulis secara ofline.

Bagaimana kebiasaan menulis Anda? Apakah Anda menulis secara online?

—————————————————————
Posting Terkait:
1. Etika Menulis: Anda tentu bebas menulis apa saja. Toh, blog itu milik Anda. Tapi, apa iya?
2. 7 Hal ‘Keterlaluan’ Dalam Menulis Blog: Setiap blogger pasti ingin blognya memiliki trafik tinggi. Tetapi jangan sampai tujuan tersebut membuat Anda masuk daftar blogger ‘keterlaluan’!
3. Mengenal Objek Wisata di Pandeglang, Banten: Apa saja objek wisata di Pandeglang yang Anda tahu?
4. Personal Blog: Seperti apa sih personal blog itu?