Ke Pulau Tidung Bareng Isnuansa, Mau? [Updated]

Pulau Tidung 200x300 Pulau Tidung Masih Harus Berbenah

Yeay! Ada berita gembira. Kalau selama ini saya menang kuis ini dan itu, sekarang waktunya saya berbagi kebahagiaan dengan pembaca blog saya.

Dalam waktu seminggu ke depan, saya akan menyelenggarakan kompetisi menulis blog dengan tema: “Jika aku jalan-jalan ke Pulau Tidung bareng Isnuansa, aku akan….”

Silahkan dikembangkan sekreatif mungkin, dan nantinya saya pilih 3 orang pemenang yang akan menemani saya jalan-jalan ke Pulau Tidung tanggal 11-12 Desember 2010.

Kompetisi ini digelar sejak tulisan dipublish, dan ditutup tanggal 6 Desember jam 12.00 wib. Pengumuman pemenang merupakan hak mutlak saya dan tidak dapat diganggu gugat, akan dilakukan tanggal 7 Desember jam 20.00 wib.

Siapa saja boleh ikut, dengan gambaran perjalanan ke Pulau Tidung adalah sebagai berikut:

Pulau Tidung adalah salah satu pulau terbesar di gugusan Kepulauan Seribu, hanya 3 jam dari utara Jakarta, terdiri dari Pulau Tidung Besar dan Pulau Tidung Kecil. Pulau-pulau tersebut memanjang dari barat ke timur, yang dihubungkan oleh jembatan kayu sepanjang +/- 800 meter, dengan view yang indah, Anda juga bisa bersepeda sepanjang pulau, dan yang tak kalah menariknya adalah Pulau Tidung dilindungi oleh cincin yang terbentuk dari gugusan karang (goba), yang menyebabkan Pantai Tidung sangat asyik untuk berenang dan juga di dalam goba ini, banyak terumbu karang indah dan ikan warna warni, cocok untuk bersnorkeling.

Fasilitas dan Biaya Pulau Tidung, jika Anda jalan-jalan sendiri, tidak menggunakan travel agent adalah:
Home Stay : Rp.150.000 – 300.000
– Sewa alat snorkel : Rp.35.000/hari
– Sewa Perahu : Rp. 250.000 – 350.000
– Sewa Sepeda : Rp. 15.000/hari
– Makan : Rp.10.000 – 15.000

Itinerary:

Hari ke-1

06.00-06.30 Berkumpul di pelabuhan Muara Angke
07.00-10.00 Perjalanan menuju Pulau Tidung
10.00-10.30 Menuju Homestay, unpacking, lunch
11.00-15.00 Snorkeling keliling pulau-pulau sekitar Pulau Tidung
15.00-16.00 Kembali ke home-stay, bersih-bersih diri
16.30-17.30 Menuju pantai barat Pulau Tidung Besar dengan bersepeda, menyusuri perkebunan kelapa, dan menikmati sunset yang indah
18.00-20.00 Makan Malam, istirahat sebentar
20.30–selesai BBQ di pinggir pantai, ditemani semilir angin, nyanyian ombak, dan jutaan bintang

Hari ke-2

05.00-06.00 Bangun pagi, bersepeda ke pantai timur untuk menikmati sunrise di jembatan Pulau Tidung
06.15-08.00 Tour ke Pulau Tidung Kecil, menuju pusat pembibitan tanaman, makam panglima hitam
09.00-10.00 Kembali ke homestay, sarapan, dan acara bebas, atau Anda tetep bisa berenang dibawah jembatan penghubung Pulau Tidung, atau mau uji nyali loncat di jembatan?
11.00-12.00 Packing dan check out dari home-stay
13.00-16.00 Kembali menuju Pelabuhan Muara Angke Jakarta
(end of the trip)

Total perjalanan ini bernilai Rp. 330.000,-/orang, gratis untuk 3 orang yang beruntung saya pilih. Biaya tersebut adalah:

Include:
– Transportasi Kapal Muara Angke – Tidung (PP)
– Penginapan home-stay (rumah penduduk, ada kipas angin & tv)
– 3x makan selama di Pulau Tidung (1x lunch, 1x dinner, 1x breakfast)
Boat untuk snorkeling keliling Pulau
– Sewa Sepeda di Pulau Tidung
Snorkel gear lengkap (life jacket, masker, snorkel, fin)

Exclude:
1. Keperluan pribadi seperti telephone, laundry, internet, makanan ekstra dll
2. Obat-obatan
3. Jaminan Asuransi
4. Transportasi dari rumah Anda sampai Muara Angke dan dari Muara Angke ke rumah Anda.

Berminat? Ayo menulis di blog Anda, “Jika aku jalan-jalan ke Pulau Tidung bareng Isnuansa, aku akan….”

Setelah itu, daftarkan link di kolom komentar. Karena kolom komentar saya moderasi jika ada link yang masuk, harap bersabar ya, pasti nanti saya munculkan kok komentar Anda, jadi cukup sekali saja mendaftarnya. Selain itu, kirimkan data diri Anda ke email isnuansa@gmail.com

~~~

Maaf, karena saya tiba-tiba harus ke luar kota tanggal 11 Desember, jalan-jalan ke Tidungnya diundur satu minggu menjadi tanggal 17-18 Desember ya. Maaf banget, saya nggak bisa menghindari tugas. Semoga masih ada yang bisa ikut. *deg-degan yang rencana ikutan jadi pada batal*

Pasca Pulau Tidung dan Pulau Onrust, Lalu Kemana?

Saya menerima beberapa email dan ajakan berteman di facebook saya dalam jumlah yang relatif banyak belakangan ini. Padahal saya tidak mengenal mereka sebelumnya. Setelah saya tanya, dari mana mengetahui alamat facebook saya, mereka bilang dari blog. Hah, blog? Selama ini blog saya nggak banyak mengirim ‘kenalan’ baru ke facebook saya, kecuali juga sesama blogger.

Owh, rupanya mereka membaca tulisan saya tentang Pulau Tidung dan Pulau Onrust hasil jalan-jalan saya beberapa waktu yang lalu. Seiring dengan ekspos yang ada di televisi, nampaknya popularitas kedua Pulau yang masuk ke dalam wilayah Kepulauan Seribu itu menjadi makin tinggi. Dan setelah saya coba sendiri mencarinya di Yayang Google, blog saya memang muncul di halaman kedua dan pertama hasil pencarian.

Memang sih belum menduduki posisi puncak. Jawaranya siapa lagi kalo bukan Mbah Wiki. Saya cukup puas dengan pencapaian berada di halaman pertama, karena saya hanya menulis berdasarkan pengalaman yang telah saya lalui di kedua Pulau tersebut.

Untuk Pulau Onrust, memang agak sedikit dioptimasi dengan menambahkan gambar [foto] yang diberi keterangan alt-nya berupa kata kunci Pulau Onrust. Itupun setelah pada postingan Pulau Tidung beberapa orang protes karena nggak ada gambarnya.

Jalan-jalan memang kurang nendang rasanya jika tanpa bukti foto-foto narsis. Namun demi satu alas an tertentu, saya hanya mengaplotnya di facebook. Jika ingin lihat versi lengkap dari foto, ya silahkan gabung jadi teman saya. Kalo di blog, paling-paling hanya baca ceritanya doang.

Pulau Onrust

Eh, nggak tahunya malah berhasil tampil di halaman muka Yayang Google. Akibatnya, saya kini menjadi ‘konsultan’ dadakan buat acara jalan-jalan beberapa orang yang baru saya kenal. Mereka berkirim email menanyakan ini dan itu karena mereka menginginkan informasi yang lebih lengkap. Terutama tentang budget yang harus disiapkan.

Ngomong-ngomong, ada nggak ya travel agent yang mau melirik saya? Membayari jalan-jalan saya, dan sebagai gantinya saya akan menulis tulisan yang spektakuler UHUY, yang mampu muncul di halaman depan Yayang saya, dan menggiring konsumen ke situs penjualan mereka?

Pembaca spontan menjawab: MIMPI KALI YEEE….

~~~

Baca juga tulisan saya yang ini ya:
1. Pengalaman Sehari di Pulau Onrust
2. Keindahan Pulau Tidung di Kepulauan Seribu
3. Gw Cantik Hari Ini!
4. Pantai Samudera Karawang Yang Memikat Hati

Pulau Tidung Masih Harus Berbenah

Pulau Tidung

Hari Sabtu yang lalu 13 Maret 2010, secara tidak sengaja saya melihat tayangan di salah satu televisi swasta, acara jalan-jalan yang dipandu oleh Ngesti Utomo, ke Pulau Tidung Kepulauan Seribu.

Wah, jadi berasa pengen jalan-jalan kembali menyusuri Pantai yang airnya bening itu. Terlihat di televisi sih bening, tetapi kenyataannya pada saat saya ke Pulau Tidung, airnya sedang butek, mungkin karena hujan sehari sebelumnya, dan sampah juga ada banyak menggenang di beberapa tempat.

Saya jadi berpikir, ketika sebuah acara jalan-jalan di televisi sudah menampilkan Keindahan Pulau Tidung di Kepulauan Seribu, ada dua kemungkinan, yang pertama memang murni dibiayai oleh pihak televisi yang bersangkutan, tetapi ada juga kemungkinan kedua, jalan-jalan itu adalah iklan yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah untuk memajukan pariwisata di tempat tersebut.

Pulau Tidung dalam hal ini masuk ke dalam wilayah administrative Kepulauan Seribu, setingkat dengan Jakarta Selatan, Utara, Barat dan Pusat yang masuk ke dalam wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta.

Dalam acara jalan-jalan yang dipandu oleh Ngesti Utomo yang lumayan manis tersebut, suasana Pulau Tidung memang digambarkan agak berbeda dengan apa yang pernah saya tulis. Ngesti lebih banyak melakukan kegiatan yang bisa dilakukan sendirian, tidak seperti saya yang mengikuti jadwal acara yang telah ditentukan oleh penyelengara Tour dan Travel.

Jika acara tersebut disponsori oleh pihak pemda DKI Jakarta, saya menyarankan agar sebelum diiklankan secara gencar sebagai daerah tujuan wisata, Pulau Tidung mustinya harus lebih banyak berbenah terlebih dahulu. Kenapa? Pulau Tidung masih minim sekali dengan fasilitas yang dibutuhkan sebagai tempat tujuan wisata.

1. Jangan berharap Anda menemukan tempat penginapan bernama Hotel di sana. Yang ada paling-paling hanyalah Guest House yang jumlahnya sangat-sangat terbatas. Anda bisa memang menyewa rumah penduduk untuk dijadikan penginapan, tetapi kita kan kadang perlu juga fasilitas yang sedikit nyaman ketika berjalan-jalan bukan?

2. Pulau Tidung juga tidak memiliki semacam toko serba ada, atau yang agak lengkap dikit dagangannya. Yang ada hanyalah warung-warung kecil yang menjual makanan dan minuman dengan jenis yang sangat terbatas. Memang sih, saya nggak menemukan kendala dengan hal tersebut, tetapi buat sebagian orang, lebih nyaman aja jika mudah menemukan apa yang mereka butuhkan di tempat wisata.

3. Pulau Tidung tidak memiliki sinyal komunikasi yang bagus. Dari berbagai macam operator, tak satupun mampu menangkap sinyal dengan baik. Entah masyarakat di sana berkomunikasi dengan menggunakan apa. Boro-boro 3G atau GPRS, pokoknya nggak bisa online sama sekali. Teman yang memakai Indosat masih bisa facebookan, dengan mencari posisi sinyal yang tepat. Telkomsel? Matiin saja hand phone Anda. Hahhaha..

4. Pulau tidung tidak memiliki restoran. Ya. Anda akan sangat kesulitan untuk mendapatkan makanan yang bervariasi di sana. Warung-warung makan kecil yang ada hanyalah warung dengan satu atau dua macam lauk yang bisa anda pilih. Atau, paling banter adalah warung bakso dan mie ayam. Jangan coba-coba pengen makanan jenis lain di Pulau Tidung. Bahkan sea food bakar atau goreng sekalipun!

5. Dan satu lagi yang paling biasa kita cari di suatu teempat wisata adalah souvenir atau oleh-oleh khas dari daerah tersebut. Nggak ada di Pulau Tidung! Anda perlu oleh-oleh? Ngesti Utomo memang menampilkan dodol rumput laut yang katanya sangat terkenal dari Pulau Tidung bahkan sampai ke daratan Sumatera, tetapi saya nggak menemukan ketika di sana. Entah di mana letak penjualnya. Kalaupun ada yang jual souvenir sebagai oleh-oleh berupa kerang-kerangan, dalam bentuk masih asli! Buat apa sih kerang Asli? Mbok ya diolah sedikit kek, jadi kreatifitas yang lebih indah. Ini asli sli sli, masih seperti bentuk yang sama ketika kita menemukannya di laut, hehehehe…

Masyarakat Pulau Tidung yang saya perhatikan terbagi menjadi dua macam jika saya boleh simpulkan. Yang pertama adalah nelayan asli, yang menggantungkan kehidupannya dari laut dan menangkap ikan serta hasil laut lainnya. Dan yang ke dua adalah warga yang telah mampu mendapatkan pengasilan dari adanya wisatawan yang hadir ke Pulau Tidung. Nelayan asli relatif lebih miskin dan kelompok yang kedua memiliki kehidupan yang lebih baik.

Warga yang memanfaatkan parisitata sebagai penghasilan mereka bermacam-macam seperti membuaka warung kelontong [tahu sendiri kan harga barang di tempat wisata selalu lebih mahal], membuka warung makan, menyewakan peralatan snorkeling, menyewakan rumah atau guest house, sampai dengan menjalankan usaha menyewakan sepeda dan transportasi lainnya.

Jika Anda ingin melihat foto-foto pemandangan di Pulau Tidung, silahkan add facebook saya. Mudah-mudahan saya konfirmasi secepat mungkin. 😉

~~~
Baca juga tulisan saya yang ini ya:
1. Pengalaman Sehari di Pulau Onrust
2. Keindahan Pulau Tidung di Kepulauan Seribu
3. Gw Cantik Hari Ini!
4. Pantai Samudera Karawang Yang Memikat Hati