Pengalaman di Trans Studio Makassar

Iklan Histeria sebagai sebuah wahana baru di Ancol, membuat saya jadi teringat dengan kunjungan saya ke Trans Studio Makassar bulan lalu yang belum sempat saya tuliskan. Saya belum sempat cerita di blog ini, terlanjur bosan karena cerita Makassar melulu waktu itu.

Saya ingat betul, hari itu Sabtu, 8 Mei 2010 ketika saya jalan-jalan ke Trans Studio Makassar. Alasan utamanya karena nggak ada teman yang bisa temani keliling-keliling Makassar, padahal Trans Studio bukan tempat tujuan utama saya jalan-jalan ke Makassar.

Dengan Taksi saya meluncur dari penginapan ke Trans Studio. Lokasinya yang agak jauh dari jalan raya dan nggak ada (cmiiw) angkutan umum (pete-pete) membuat pilihan transportasi jadi terbatas. Sampai di Trans Studio, masih sepi. Baru ada sedikit pengunjung di sana.

Tiket masuk ke Trans Studio adalah Rp. 100.000 untuk permainan-permainan ‘biasa’ sebanyak 15 pilihan, dan Rp. 150.000 untuk paket untung, yang bisa masuk juga ke dalam 6 wahana ‘spesial’ sebanyak 1 kali per wahana (nggak boleh berkali-kali maksudnya, nggak seperti tiket terusan di Dufan).

Saya pilih yang Rp. 150.000, mumpung jauh-jauh sampai Makassar, rugi juga kalau nggak bisa nyobain semuanya. Berhubung saya pikir wahananya lumayan banyak, saya langsung memanfaatkan waktu yang ada sebaik mungkin, satu per satu saya coba.

Termasuk permainan Dragon’s Tower yang mirip dengan Histeria yang baru ada di Dufan. Karena masih sepi, saya nyoba permainan itu seorang diri! Beda dengan Dufan yang kalo antri bisa mirip ular naga panjangnya, di Trans Studio sepi pi pi, dan saya terpaksa menikmati permainan sendirian. Hahaha…

Kalo ditanya gimana rasanya main Dragon’s Tower, saya akan jawab: biasa aja. Biasa? Ya! Nggak ada takut-takutnya. Nggak bikin saya teriak-teriak. Biasa aja. Sama dengan Halilintar-nya, versi Trans Studio Makassar bernama Magic Thunder Coaster dan saya juga main sendirian (!) paling hanya 25% tingkat keasyikannya. Nggak berasa apa-apa. Karena hanya boleh main satu kali, ya cukuplah nyobain sekali aja.

Wahana yang lain bisa Anda bayangkan sendiri. Dunia Lain bikin serem? Ah, massa? Emang ada yang ngomong begitu? Saya nggak percaya!

Satu-satunya yang menghibur saya adalah kesempatan main bom-bom car sepuasnya. Hanya itu permainan yang bisa bikin saya betah berlama-lama. Keluar masuk, keluar masuk, kembali lagi main bom-bom car. Nggak perlu antri, pokoknya maen lagi – maen lagi!

Oh, iya. Yang bikin saya agak gondok, saat di trans studio, saya lupa nge-charge kamera. Dan kamera cadangan (BB) nggak bisa berfungsi dengan baik karena di indoor yang minim pencahayaan, handphone itu jadi norak banget gara-gara nggak ada blitz-nya. Hadoh. Jadilah gambar-gambar saya burem semuanya!

Di tulisan selanjutnya nanti mungkin saya akan cerita tentang pertunjukkan operet yang ada di Trans Studio, karena tulisan ini sudah kepanjangan, nanti aja ya ceritanya…