Pengalaman Nonton Sirkus Balagan Jakarta

Wah, lama juga ya saya nggak nulis. Yang pertama mau saya ceritakan yang sirkus Balagan Jakarta dulu kali ya.

Saya dapat tiketnya dari kuis di twitter. Dan sekali lagi, saya bukan yang pertama kali tau lho. Saya tau karena ada teman yang ikutan tapi nggak menang. Saya ikut yang periode berikutnya (gelombang 7) dan langsung dapet!

Dalam pemberitahuannya melalui DM, saya hanya dapat 1 tiket untuk nonton di hari Minggu seharga Rp. 400.000,- tetapi pas saya ambil di hari Sabtu (untung saya nggak jadi ambil tiket go show) saya dikasih dua lembar! Aha.

Jam 19.15 (padahal TedxJakarta belum bener-bener beres, masih banyak yang harus dikerjakan panitia) saya udah dijemput Dondon. Meluncurlah kami ke Ritz Carlton, Pacific Place. Telat dikit sih, pertunjukan sudah dimulai.

Balagan adalah sirkus yang seluruh pemainnya manusia, sama sekali tidak melibatkan binatang. Dan ini memang kali pertama saya menonton pertunjukan sirkus secara langsung. IMHO, dengan harga tiket yang semahal itu untuk dua jam pertunjukan, terhitung mahal ya. Begini alasannya. Saya duduk di bangku kelas Silver yang paling murah (yang gold seharga Rp.1.000.000,-), jauh dari panggung. Dan bangkunya itu nggak seperti bioskop yang berundak, setiap kelas sama rata, jadi panggungnya terhalang kepala penonton di depan kita, apalagi kalo penonton depan kita tinggi-tinggi posturnya. Huks, huks.

Kalau dari pertunjukannya sendiri, sudah pasti bagus. Kostumnya keren! Panggungnya luas dengan dekorasi dan tata cahaya yang bagus, dan tentu saja soundtrack yang beda. Lagu-lagu timur tengah yang diaransemen khusus untuk sirkus Balagan itu membuat kita makin menikmati pertunjukan. Hanya sedikit bagian pada saat penari tanpa kaki saja yang membuat saya sedikit bosan, sekitar 5 menitan.

Kesalahan-kesalahan kecil juga saya lihat terjadi, tapi masih bisa dibilang lancar kok pertunjukan. Ada yang agak kesulitan melipat besi-besi yang diputar-putar, ada yang tak sempurna posisi tangannya ketika duet ‘manusia six packs’ dan ada juga tarian yang nggak begitu kompak ketika 6 orang di 2 pipa. But it’s ok.

Yang saya suka adalah bagian atraksi laki-laki dengan roda berputar (ehm, sumpah seksi banget badannya!), dan bagian penutup, pasangan yang menari dan melayang dengan tali di udara. Kewl. (Nggak nolak kalo suatu saat dapat undangan untuk nonton lagi. *maruk*)

Maaf ya Mikha Matorin, bukan berarti saya dikasih tiket gratisan, trus nggak boleh ngasih masukan, bukan? *ngarep tim balagan ada yang baca tulisan ini*

Oiya, nulis ini kok malah jadi inget, saat nulis pengalaman ke Trans Studio, ya sudah pasti saya kritis dong ya, namanya juga saya jalan-jalan ke sana beli tiket pesawat pakai uang sendiri, nginep di hotel pake uang sendiri, beli tiket masuk Trans Studio pakai uang sendiri, nulis pengalaman di blog sendiri, bayar domain dan hosting tiap tahun pakai duit sendiri, eh, ada yang nyolot kenapa tulisan saya ‘negatif’ (Hmm, kapan ya Pak Chairul Tanjung bagi-bagi tiket jalan-jalan gratis ke Trans Studio? *dikeplak*). Ini aja Balagan yang ngasih gratisan Rp. 800.000,- masih saya kasih ‘sambel’ juga.

Terimakasih ya, buat tim Balagan Jakarta yang sudah ngasih saya kesempatan nonton pertunjukan yang keren! Nanti kalo ada pertunjukan lain, jangan malu ya kontak-kontak saya buat ikutan kuisnya. *ihik*

Teman-teman yang selalu tanya “Gimana sih caranya kok bisa dapat gratisan terus?” atau “kabar-kabari dong Mbak, kalau ada info kuis”, makanya buruan gabung di twitter. Info kuis itu datang dan hilang dalam hitungan menit (atau puluhan menit) jadi nggak mungkin dikabari lewat blog, baru selesai bikin postingan, kuisnya udah selesai deh. πŸ˜†

Pelan-pelan aja belajar twitter. Saya juga masih pemula kok. Jangan lupa follow saya @isnuansa, see ya!

Makassar, Kebaikan Yang Tak Terhapus #3

Kopdar Dengan Abu Ghalib di Makassar

Kalau dihitung berdasarkan urutan waktu, tulisan ini meloncat jauh. Tapi nggak papa, karena berbeda dari tujuan saya jalan-jalan, ya saya duluin aja deh…

Jadi sebenernya saya sudah 3 hari berada di Makassar ketika itu. Memang saya sengaja nggak pernah apdet status facebook, bukannya nggak bisa, BB saya online sepanjang hari, tapi saya punya banyak alasan untuk nggak narsis di status Facebook. Salah satunya adalah menghindari Bos tahu posisi saya. Saya kan melarikan diri tanpa ijin. πŸ˜† Alasan yang lain jangan ditanya ya apa. :mrgreen:

Hari Sabtu, saya sudah bebas, nggak mungkin dicari-cari lagi untuk urusan kerjaan. Saya pasang status bahwa posisi sedang di Trans Studio. Rupanya ada yang baca. Ada juga yang menawarkan diri menemani. Tapi saya punya jurus ngeles yang ampuh hingga akhirnya jalan sendiri. :p

Salah satu blogger yang sudah saya kenal meski baru dikit doang sih, mengirimi saya pesan. Minta ketemuan malam nanti. Saya iyakan. Jam 8 ya, jawab saya. Sudah saya sms beberapa kali, tak ada jawaban. Akhirnya saya memutuskan ‘memanggil‘ teman saya yang lain untuk menemani makan malam. Padahal rencana di benak saya, saya bakalan kopdar sambil makan malam.

Eh, pas jam 8 malam, baru sms balasan datang. Saya sudah terlanjur janji dengan yang lain. Saya bilang, ada dua alternatif, tetep ketemu malam ini, tapi pasti tengah malam, atau besok pagi saja karena saya akan mampir di rumah teman yang kebetulan dekat rumahnya. Rupanya pagi-pagi dia ada acara, ya sudah, kopdarnya dilakukan tengah malam, sepulang saya makan malam bersama teman.

Datanglah Mas Abu Ghalib ini ke penginapan saya sekitar jam 23.00an, ketika teman makan malam saya sudah pulang. Silahkan baca sekilas sanjungan beliau ke saya di sini. πŸ˜† Ebuset, saya nggak segitu hebatnya kaleee

Ditemani secangkir kopi susu *halah bahasanya* kami ngobrol ngalor-ngidul soal banyak hal. Meski hanya berdua, seru deh kopdarnya, lebih intim fokus. πŸ˜† Sampai-sampai hari sudah berganti ke Minggu. Jam 01.00anlah Bapaknya Ghalib pamitan.

Sebelumnya, sempat beberapa kali ambil foto, tapi lucu deh. Kirain hanya cewek doang yang rewel kalo difoto, harus begini harus begitu, cari posisi yang bagus dan pose andalan, ternyata eh ternyata, sesi pemotretan malam itu juga sempat berulangkali take, hingga akhirnya dicapai kesepakatan foto mana yang akan tayang. πŸ˜†

Yang kakinya jangan diambil lah, yang ngambilnya harus sambil jongkoklah supaya hidungnya terlihat lebih mancung, lebih ruepot deh dibanding saya yang cewek, hahaha, sori Mas, nggak tahan buat nutupin rahasia… πŸ‘Ώ

Senangnya bisa ketemu blogger di Makassar, padahal tanpa rencana. Oiya, sekalian saya minta maaf pada ketua AngingMammiri (komunitas Blogger Makassar) Daeng Gassing, yang jauh sebelumnya malah sudah rencana mau ketemuan, eh malah nggak jadi. Waktu saya yang susah diaturnya. :p

Jauh-jauh hari sudah sms-an sama Pak Ketua AM minta kopdar, sayanya yang nggak konsekuen. Hehehe…

Trans Studio, Disneyland Indonesia di Makassar

Kenapa kali ini saya posting dengan judul agak sedikit aneh β€œDisneyland Indonesia di Makassar”? Bosan juga setiap hari ngomongin blog melulu, sesekali saya juga pengen refreshing, jalan-jalan, keluar dari rutinitas.

Meski saya baru berharap bisa ke sana, saya sudah mencari banyak informasi tentang tempat hiburan baru yang diresmikan oleh Kalla tersebut. Namanya Trans Studio. Hasil patungan Para Group [milik bos Trans TV, Chairul Tanjung] sebanyak 55% dan Kalla Group [yang ini semua sudah tau siapa dia kan?] sebanyak 45%.

Trans Studio berada di Makassar, Sulawesi Selatan. Tepatnya di Tanjung Bunga [sttt, saya sudah pernah ke Pantai Tanjung Bunga sewaktu belom ada Trans Studio] berjarak sekitar 5 km dari Makassar.

Indoor Theme Park terbesar di dunia tersebut luasnya 2,7 hektar, dengan biaya pembangunan tak kurang dari 1 triliun rupiah. Ada 22 wahana yang sebagian besar diadopsi dari Disneyland dan Universal Studio, makanya bisa dibilang Trans Studio adalah disneyland nya Indonesia.

Untuk bisa menikmati indahnya Trans Studio, pengunjung harus menggunakan kartu semacam ATM yang disebut Studio Pass seharga Rp. 100.000,- [Seratus Ribu Rupiah] dan bisa diisi ulang sampai batas lima juta rupiah.

Dengan menggunakan studio pass tersebut, pengunjung dapat memasuki wahana yang ada [per wahana harganya 10 sampai dengan 25 ribu], makan minum di restoran yang ada, dan berbelanja di toko yang bekerjasama dengan Bank Mega [milik Bos Chairul Tanjung], selama kredit masih ada. πŸ˜‰

Kalo dihitung-hitung, masih lebih mahal juga ya jika dibandingkan dengan konsep hiburan yang ditawarkan Dunia Fantasi, Ancol, misalnya. Dengan tiket terusan Dufan, kita sudah bisa menikmati banyak sekali wahana tanpa perlu membayar lagi setiap wahana.

Meski begitu, suatu saat, saya pengen juga mencobanya. Bagaimana dengan Anda?

——————————————————-

Tulisan lain yang perlu Anda baca: