Wawancara Spesial Dengan Mas Iskandaria

Sudah kenal kan dengan Mas Iskandaria? Pemilik blog Kafe28.blogspot.com. Seminggu yang lalu saya mewawancarainya, karena penasaran dengan apa yang ada di balik keputusannya memilih niche yang sama dengan saya: blogging. Seneng banget setelah mendapat konfirmasi bahwa beliau bersedia diwawancara tanpa bayaran. Terimakasih Mas Iskandaria!

Semoga dengan adanya wawancara ini, blogger lain dapat mengambil manfaat, karena ini adalah pengalaman pribadi dan sisi lain seorang blogger, yang mungkin tidak dapat Anda ketahui tanpa bertanya langsung kepada yang bersangkutan. Ayo, silahkan mulai disimak, dan berikan komentar Anda di bawah ya! 😉

[IM] : Blog Anda kan berisi tentang dua tema besar, blogging dan hiburan. Apa sih, alasan Anda sehingga akhirnya memilih dua tema tersebut? Kenapa tidak memfokuskan pada ‘Bisnis Online’, misalnya. Atau, tidak fokus saja pada niche hiburan, mungkin…

[I] : Hmm, pertanyaan yang cerdas mbak. Awalnya saya memang hanya ingin fokus pada niche hiburan. Bayangan awal saya, tema hiburan saja sudah cukup luas cakupannya. Jadi tidak ada alasan untuk mengalami mati ide atau kejenuhan. Namun pada perkembangannya, saya malah mengalami 2 hal tersebut. Seiring ketertarikan saya terhadap dunia blog, akhirnya saya putuskan untuk memperluas tema blog menjadi 2 dalam 1 (two in one). Kayak shampo aja yach 😉

Lagipula, sewaktu masih aktif sebagai penulis di komunitas PintuNet dulu, saya memang lebih fokus menulis tentang dunia entertain dan tips-trik seputar menjadi penulis/member berkualitas. Ternyata kecenderungan minat ini kemudian terbawa ke dunia blog.

Kenapa saya tidak memfokuskan pada ‘Bisnis online’?

Sebenarnya saya pernah membuat satu blog khusus tentang bisnis online. Namun ternyata tidak mampu bertahan lama. Setelah saya renungkan, ternyata penyebabnya karena saya kurang mencintai tema tersebut. Sekadar bermotifkan meraih untung dari link affiliasi ternyata tidak mampu membuat blog tersebut survive..hehehe (apalagi jika keuntungan yang didapat ternyata NOL BESAR).

Lagipula, di luar sana sudah begitu banyak blog tentang bisnis online. Saya merasa kurang mampu bersaing pada niche ini. Di samping karena pengalaman berbisnis online yang sangat minim dari saya sendiri. Jadi, apa yang bisa saya berikan untuk pembaca?

[IM] : Saya pernah baca di Problogger, bahwasanya sebuah blog adalah mirip dengan stasiun radio. Kita tidak bisa ‘memuaskan’ segala segmen pendengar. Radio yang memutar jaz dan dangdut sekaligus, pasti tidak memiliki penggemar. Pendapat Mas Iskandaria?

[I] : Analoginya boleh juga. Tapi menurut saya, yang terpenting adalah bagaimana trik radio tersebut dalam merangkul 2 segmen sekaligus. Bisa dengan jalan membuat program acara khusus musik jazz pada waktu-waktu tertentu yang sudah terjadwal. Begitu pula dengan program musik dangdut. Yang terpenting menurut saya ialah bagaimana TEKNIK PENYAJIAN dan MATERI acara yang mereka suguhkan.

Kemasan yang UNIK dan MATERI lagu yang TIDAK PASARAN (tidak mainstream) tetap berpotensi merangkul dan memuaskan pendengar musik yang disasar. Ada beberapa stasiun radio swasta di kota saya (Pontianak) yang menggunakan trik ini. Radio mereka bukan tergolong segmented pada satu jenis musik saja. Namun mereka ternyata tetap mampu memuaskan pendengar. Caranya? Mereka konsisten menyajikan materi lagu yang tergolong jarang diputar di radio lainnya. Dan itu sudah terjadwal pada waktu tertentu.

Begitu pula dengan dunia blog. Saya tetap yakin bahwa blog dengan 2 tema masih bisa memuaskan pengunjung dan juga menarik penggemar setia. Dengan catatan, selalu berupaya konsisten memposting sebanyak mungkin KONTEN UNIK dan dikemas dengan RASA yang BERBEDA. Nggak terlalu idealis kan?

[IM] : Kira-kira, jika kita sama-sama menulis niche blogging, dan tetap konsisten dengan langkah [setidaknya] seperti sekarang ini, prospek ke depannya Anda melihat seperti apa? Apa bisa menghasilkan?

[I] : Sebenarnya dalam hal ini saya agak pesimis mbak. Itulah mengapa saya kemudian menggabungkan 2 tema sekaligus dalam satu blog. Itu sebagai antisipasi jika ternyata salah satu tema kurang mampu menyumbangkan banyak trafik dari mesin pencari.

Data blog saya (dari hasil tracker histats dan feedjit) membuktikan, bahwa topik dan keyword seputar dunia hiburan ternyata menjadi penyumbang trafik terbesar bagi blog saya. Persentasenya bisa sampai 90 %. Sedangkan topik/keyword seputar blogging? Paling banter cuma 10-25 %.

Saya bocorkan fakta ini bukan bermaksud mengecilkan harapan mbak Nunik yang saat ini terus berupaya fokus di niche blogging. Toh, saya liat, trafik blog mbak Nunik rata-rata sudah di atas 100 per harinya. Itu pertanda bagus lho. Kalau memang terbukti banyak mendatangkan pengunjung dari mesin pencari (disamping pengunjung setia), kenapa harus pesimis?

[IM] : Mas Iskandaria tidak khawatir kalau niche yang kita pilih ini ternyata bukan ‘lahan basah’ yang akan menjadi incaran sponsor meletakkan iklannya? Bukannya pemasang iklan akan memilih ‘tempat’ sesuai dengan jenis produknya? Soalnya, trend belakangan ini sepertinya lebih kepada sosial media dan micro blogging, daripada ke blogging itu sendiri.

[I] : Mungkin pertanyaan ini sebagian sudah terjawab pada paparan saya di atas. Saya sudah mengantisipasi hal ini dengan cara menyatukan 2 tema dalam satu blog. Menurut saya yang terpenting ialah trafik harian, di samping niche yang terfokus (walaupun 2 tema). Selebihnya ialah bagaimana kita bisa memuaskan pengunjung dan menjamu mereka dengan sajian posting yang senantiasa bermanfaat. Plus up to date.

Masalah niche yang dikhawatirkan kurang mampu menyedot pengiklan, saya rasa semuanya kembali pada kecintaan kita terhadap niche yang kita pilih tersebut. Sepanjang kita ngeblog karena CINTA (bukan sekadar iseng atau suka), saya yakin itu akan memberi energi dan berkah yang bagus. Salah satunya bisa berupa trafik yang melimpah dan pengunjung setia yang terus bertambah jumlahnya. Asal tidak cepat keok saja di tengah jalan..hehehe.

Soal tren sosial media dan microblogging yang dikhawatirkan bakal mengancam eksistensi blogging, saya rasa tidak. Kalau kita bicara trafik natural dari mesin pencari, rasanya saya tetap optimis blog akan tetap hidup dan berjaya. Bukankah mayoritas pengguna internet akan selalu memanfaatkan search engine untuk mencari informasi yang mereka butuhkan?

Itulah denyut nadi kehidupan blog yang tetap akan membuatnya hidup dan senantiasa survive!

[IM] : Saya baca di kolom komentar blog saya kalo Mas Iskandaria ingin suatu saat PR-nya sekian, Page View hariannya sekian dan lain sebagainya. Berapa lama lagi cita-cita itu Mas Iskandaria targetkan? Dan, apa cita-cita [pencapaian tertinggi] yang Anda ingin capai?

[I] : Hehehe. Dalam 2 tahun ke depan mbak. Mimpi (cita-cita) saya setidaknya punya pagerank 5 dan trafik harian di atas 500. Untuk setahun ke depan, PR 4 dan punya pengunjung di atas 300 per harinya. Cukup realistis buat saya. Kalo pencapaian tertinggi tentu saja bisa memonetisasi blog saya menjadi sumber penghasilan yang terus mengalir. Syukur-syukur jika akhirnya bisa menjadi sumber penghasilan utama.

Namun kepuasan utama tetaplah pada nilai berbagi dan menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama. Salah satunya lewat ngeblog.

[IM] : Bagaimana cara Anda mewujudkannya?

[I] : Tidak lain dengan cara tetap konsisten memposting artikel, setidaknya 2 kali dalam seminggu. Jika postingan sudah lumayan banyak, satu kali per minggu pun sudah bagus buat saya. Yang penting tetap berusaha mencintai aktivitas blogging. Selain itu, tetap blogwalking untuk terus menjalin silaturahmi, menjaga semangat ngeblog, dan juga demi memperoleh ilmu+inspirasi baru.

Di luar semua itu, yang terpenting ialah lakukan segala sesuatunya dengan penuh kecintaan dan ketulusan. Insya Allah akan tetap semangat dalam menggapai impian. Sebab itu akan memberikan energi yang LUAR BIASA!

Dan itu pulalah yang membuat saya tetap bertahan ngeblog hingga saat ini 😉

~~~

Bagaimana komentar Anda?

MetaMARSphose is Not Just a Blog

MetaMARSphose adalah blog milik Pak Guru Marsudiyanto yang ngajar Matematika di Kendal. Blog yang memiliki tagline It’s Not Just a Blog – It’s a Metamarsphose Blog ini memenangkan beberapa kategori Internet Sehat, yaitu Inspiring Blog dan Best of The Best Blog. [ Saya sendiri sampai saat ini belom mendapatkan balasan, padahal sudah lama daftar. 😥 ]

Langsung ke blog beliau aja ya, kalo pengen kenal lebih jauh…

Marsudiyanto

Di bawah ini adalah wawancara saya dengan Pak Guru. Buat saya, menyenangkan bisa mengetahui pengalaman pribadi bloger lain dalam melakukan aktifitas ngeblognya. Silahkan membaca.

[I]    : Sejak kapan Anda ngeblog?
[M]  : Sejak awal 2008

[I]    : Berapa jumlah blog yang Anda kelola?
[M]  : Blognya banyak, yang lumayan hidup ada 3 tapi yang paling hidup ya cuman 1 (yang marsudiyanto.info)

[I]   : Berapa jam per hari waktu yang Anda habiskan untuk memanage blog?
[M]  : Kalau di rata2 ya mungkin sekitar 2 jam, tapi itu komulatif
dalam sehari. Bisa 4X30′, bisa 6X20′ tapi ya bisa 1X2 jam. (Tapi belum
pernah 120X 1 menit…)

[I]    : Apa kendala terbesar dalam ngeblog?
[M]  : Terutama bahasa… Saya nggak mampu berbahasa Inggris, entah
pasif apalagi aktif. Padahal referensi utama kebanyakan berbahasa
Inggris. Referensi berbahasa Indonesia kebanyakan copy paste dan makin mengabur… Nggak cuman referensi, tapi optimasi yang lain2 juga
kebanyakan berbahasa Inggris.

[I]    : Apa topik favorit Anda?
[M]  : kalau topik bisa apa saja, yang penting penyajiannya yang anti biasa.

[I]    : Pernah melakukan copy paste content blog lain?
[M]  : belum pernah.

[I]    : Berapa page view yang Anda dapatkan per hari?
[M]  : Yang begini2 saya kurang memperhatikan (belum tau caranya dan belum merasa perlu)

[I]    : Berapa kali dalam seminggu rata-rata Anda posting?
[M]  : 5 sampai 7 kayaknya

[I]    : Berapa banyak komentar rata-rata tiap postingan?
[M]  : kira2 ya 40 an

[I]    : Berapa banyak postingan yang Anda komentari rata-rata dalam
satu hari atau satu kali blogwalking?

[M]  : Kira2 dua puluhan… (saya agak nggak enak nich, berarti saya
hutang 20 kalau dilihat dari jawaban saya sebelumnya).

[I]   : Pendapat tentang komentar: “PertamaX”?
[M]  : Lihat situasi, tapi seringnya saya nggak memasalahkan hal itu.
Yang paling sedih malah kalau ada yg komentar “maksudnya apa sich…”. (karena saya merasa tulisan saya cukup gamblang). Tapi akhirnya saya tetap bisa mengerti, karena selera dan pemahaman pengunjung blog sangat2 heterogen.

[I]    : Mengunjungi balik blog komentator Anda?
[M]  : Diusahakan tapi nggak janji. Tapi berusaha untuk meningkatkan
diri dibanding sebelumnya. (kalau bisa)

[I]    : Seberapa banyak pelanggan feed Anda?
[M]  : Nggak tau… Sumpah!!! Sayapun nggak langganan feed karena nggak tau. Ini juga sumpah!!!

[I]    : Apa saja yang Anda lakukan untuk promosi blog?
[M]  : Kayaknya cuman satu cara. Mula2, dulu sekali, ya seperti peminta-minta… Berkunjung ke bognya orang2, memperkenalkan diri dan minta dikunjungi… Setelah saya menemukan jati diri dan kepercayaan diri, nggak tau kenapa tiba2 blog saya ramai sendiri…

[I]   : Anda menerapkan SEO?
[M]  : Pernah, saat ikut kontes SEO. Sekarang nggak lagi. Capek!.
Diakui atau tidak, semua SEO capek dan sedot energi

[I]    : Apakah Anda memonetasi blog Anda?
[M]  : Mungkin iya, tapi dikerjakan pihak ketiga

[I]    : Jika iya, jenis monetasi apa saja yang Anda ikuti?
[M]  : review kayaknya

[I]    : Berapa lama sejak Anda memonetasi blog Anda, bisa menghasilkan?
[M]  : Nggak lama, nggak sampai seminggu

[I]    : Penghasilan pertama Anda?
[M]  : Saya nggak tau penghasilan awal. Yang saya tau, setelah
ngumpul, saya dikirimi transfer sudah dalam rupiah.

[I]    : Penghasilan rata-rata saat ini dari blog?
[M]  : Karena bagi hasil (50-50), maka ya nggak maksimal. Tapi saya
sudah merasa lebih dari cukup. Nominalnya nggak jelas karena gabungan 3 blog… Pokoknya sekian bulan sekali, tau2 di rekening saya ada tambahan lumayan.

[I]    : Apa kesalahan terbesar yang Anda lakukan selama ngeblog?
[M]  : Mungkin bukan kesalahan tapi kesalah pahaman. Bersama beberapa sahabat, kami membentuk front blogger gurem di frontbloggergurem.com
Lalu saya menulis dlm blog saya tentang ciri2 blogger gurem. Ternyata
ada yang salah tafsir, dikira gurem itu buram atau kusam dan saya
dianggap tidak memotivasi. Padahal gurem itu artinya kecil. Seperti ada istilah petani gurem itu… Dan sayalah blogger gurem itu. Semboyan kami: “Bersama menikmati kegureman”

[I]    : Jika Anda bisa memberikan nasehat untuk bloger yang baru
memulai kegiatan mereka, apa nasehat Anda?

[M]  : Singkat saja, biar selangkah, yang penting selalu melangkah,
ketimbang lari tapi lalu berhenti!

Tukar Link Vs SEO

Beberapa hari yang lalu saya mendapat ‘curhatan’ seputar tukar link dari seorang bloger. Dia diajak untuk bertukar link dengan sesama bloger. Link sudah dipasang di blog, dan dia mencek blog kawan, apakah link sudah dipasang juga. Rupanya teman yang mengajak bertukar link melakukan kecurangan: rellnya nofollow.

Tanpa sengaja, meski saya tidak diberitahu siapa teman yang curang tersebut, saya justru menemukan blog itu. Saya cek, hanya beberapa dari daftar blogroll yang dipasangnya yang memiliki rell nofollow. Artinya, dia membeda-bedakan rell link dalam blogrollnya.

Saya lihat, page rank blog itu sudah 3. Pantas, dia seperti nggak rela mengalirkan link juice kepada blog yang page rank-nya lebih rendah. Ketidakseimbangan page rank antar dua halaman tersebut mungkin yang menjadi alasan untuk memasang rell nofollow.

Ada beberapa bloger yang belum begitu memahami, bahwa tukar link adalah bukan sekedar memasang link blog di side bar masing-masing. Ada beberapa hal yang dapat dijadikan alasan untuk melakukan atau tidak melakukannya.

Yang paling sederhana adalah keterbatasan tempat. Sidebar sebuah blog memiliki keterbatasan dalam menampung banyaknya link yang akan ditambahkan. Jangan sampai dengan tujuan tukar link, tampilan blog menjadi ‘melorot’ tidak seimbang antara sidebar dan body blog. Hal ini memang dapat diatasi dengan membuat menu dropdown pada blogroll.

Hal berikutnya yang menjadi pertimbangan adalah link keluar dari blog. Dengan memasang banyak link dalam blogroll, ada kekhawatiran dari pemilik blog akan kehilangan page rank yang dimilikinya. Inilah yang dalam pandangan saya, dijadikan alasan untuk memberikan link rell nofollow. Padahal, saya pikir jauh lebih beretika jika dengan jujur kita menolak ajakan bertukar link, daripada membohongi orang lain. Tidak semua blogger bisa mengetahui rell nofollow ini.

Alasan lain sudah pernah saya tulis dalam postingan khusus: Tidak Mengikuti Arisan Link. Karena Matt Cutts pernah menulis, dengan tukar link, kita bisa terhubung dengan situs-situs yang tidak kita inginkan. Termasuk situs spam. Saya kenal dengan seorang Guru yang blognya memasang link menuju blog ini, dan rupanya kini blog beliau memasang banyak link menuju situs poker dan konten dewasa. Jika saya memasang link menuju kawan tersebut, Anda hanya membutuhkan DUA klik untuk menuju situs-situs yang dibenci Google tersebut. Jika dilakukan, ini akan menyebabkan blog saya tidak sehat di mata Google.

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mendapatkan link dengan cara selain ‘tukar link’ konvensional. Dan beberapa cara saya lihat cukup berhasil dilakukan beberapa blogger Indonesia.

Yang paling sering saya temui adalah Award. Pemberian award dari teman bloger untuk diteruskan kepada yang lainnya, akan mendatangkan link kepada blog pemberi award dari blogger penerima award. Selain itu juga akan meningkatkan keakraban dan hubungan persahabatan.

Cara lain adalah menyelenggarakan kontes. Dengan menyiapkan hadiah tertentu, dan mensyaratkan link menuju blog Anda, akan ada blogger yang dengan senang hati mengikutinya. [Tentu saja, latar belakangnya jangan sekedar link. Lakukan juga dengan tulus jikapun link tidak didapat. 😉 ]

Tukar Link, Sebegitu Pentingkah?

Menurut Anda, sampai sejauh mana pentingnya Anda bertukar link dengan blog lain? Apa motivasi Anda bertukar link? Untuk mendapatkan Page Rank kah? [Sttt, kabarnya Google akan segera menghilangkan Page Rank!]

Saya barusaja menyadari, blog saya -yang lain- yang isinya full copas -dengan menuliskan sumbernya dan semuanya link menuju blog lain-, tanpa pernah saya promosikan kemanapun dengan meninggalkan komentar atas nama blog tersebut, Page Ranknya malah sudah 1.

Blog tersebut pengunjungnya baru 2.000 orang, tidak memasang blogroll, tidak pula memperoleh backlink dari manapun. Tetapi 2.000 itu tentunya datang dari search engine. Maka timbul dibenak saya pertanyaan: “Lebih penting mana sebenarnya antara mendapatkan link dibandingkan SEO?”

Satu lagi data pendukung, salah satu halaman blog saya di isnuansa dot com juga memperoleh PR 1 hanya karena hampir seluruh pengunjungnya datang dari search engine. Malah tulisan saya yang lain yang di link dan dipuji-puji orang, page rank nya tetep saja 0.

Sekaligus dalam tulisan ini, sekali lagi saya ungkapkan, saya tidak memiliki blogroll, saya menambahkan blog-blog yang saya suka dan saya rasa bagus ke dalam feed reader saya. Dan berbagi link saya lakukan dengan cara lain: link dari dalam postingan, review blog ataupun wawancara.

Jadi, masih mau bertukar link? 🙄

~~~

Terimaksih pada:

Badruz, Alamendah, Nakjadimande, Hadi, HariMulya, Wempi, TukangPoto, Casrudi, Wira, Boyin, Mandor Tempe, Pakne Galuh, Hattasy, Mbah Gendeng, Grubik, Iskandaria, DuaDua, Jack.