Tak Begitu Menikmati Di Tebing Breksi

Yeah! Liburan akhir tahun memang nggak bisa ‘terlalu dinikmati‘ terutama jika mengunjungi tempat-tempat wisata yang ramai pengunjung. Ya nggak papa juga sih, tetep seneng aja meskipun nggak sepenuhnya menyenangkan.

Datang ke Tebing Breksi juga bukan destinasi utama saya hari itu. Setelah dari Candi Ijo (tetapi melalui jalur atas, naik dari Klaten), saya turun ke bawah arah pulang melalui Prambanan. Sudah kepalang tanggung, mampir sekalian, karena buuuanyak banget yang nyebut (offline dan online) Tebing Breksi. Pen liat juga jadinya.

Memasuki parkiran, langsung terkejut dengan jumlah pengunjung yang (sepertinya terlihat) ribuan. Bus-bus pariwisata berjejer. Mobil masuk antri, kalau sepeda motor antrian tak terlalu berarti, tetapi parkir bagian depan sudah penuh sesak, sehingga diarahkan oleh petugas ke bagian belakang.

Desember 2018 sih belom ada tiket masuknya ya, hanya dikenakan biaya parkir dan donasi sukarela. Tetapi saya baca teman yang menuliskan kunjungannya di bulan Januari 2019 ini sudah harus membayar tiket masuk Rp. 5.000,- untuk wisatawan domestik.

Setelah memarkir kendaraan, saya langsung mengajak Diana naik ke atas saja. Nggak foto Tebing Breksi dari bawah? Nggak. Hahahaha. Ribuan orang menyemut, itu bukan bocor lagi namanya. Saya nggak bisa ngedit fotonya. Jadi maaf ya, yang membayangkan penampakan tebing breksi di postingan ini, nggak ada, silakan bisa digoogling sendiri kayak apa bentuknya. Bagus kok.

Sepanjang anak tangga juga dipenuhi dengan banyak orang yang berusaha beringsut baik naik maupun turun. Sebagian lagi di sisi jalan, mengantri untuk bisa berfoto bersama burung hantu.

Sesampainya di atas, ya sudah hampir bisa saya tebak sih, dipenuhi dengan spot foto berbayar seperti di tempat wisata lainnya yang sedang hitz. Untungnya, untuk yang beginian Diana sudah bisa mengerti untuk tidak meminta semua spot sebagai obyek fotonya.

Dulu semasa masih kecil, setiap melihat boneka di obyek wisata, Diana maunya foto sama semuanya. Belom mau selesai foto kalau masih ada yang belom diajak foto.

Setelah mengajak foto di beberapa spot, akhirnya bertiga sepakat pulang. Alasannya karena perut juga sudah keroncongan minta diisi sih. Padahal mungkin kalau menikmati sunset dari atas Tebing Breksi ini, bagus juga ya?

Sepanjang jalan hingga lepas ke Jalan Raya Prambanan – Piyungan, itu macet sistem buka tutup saking banyaknya bus pariwisata keluar masuk, sedangkan ukuran jalan lumayan kecil. Tetapi Pokdarwis Tebing Breksi cukup jempolan mengatur lalu lintas dan parkirnya, kok! Ini perlu diapresiasi.

Nanti ya, Tebing Breksi, mungkin kita akan bertemu lagi. Harus pilih waktu yang sepi, mungkin saya baru bisa lebih menikmati.

Pulangnya saya lewat Srowot, karena mau mampir makan soto bebek kesukaan Diana di Wedi. Pulangnya, selalu seperti biasa, membeli ingkung bebek yang empuk! Naik 10 ribu dari tahun lalu ternyata, menjadi Rp. 120.000,- ingkung bebek lengkap.

4 thoughts on “Tak Begitu Menikmati Di Tebing Breksi

  1. pertama lihat fotonya saya kira ada salju beneran disana.. wkwkwk… saya juga paling tidak bisa menikmati jika ketempat wisata kebetulan pas lagi ramai2nya.. bawaannya pusing duluan ngeliat orang2 yang berseliweran.. karena itu biasanya saya akan memilih hari kerja atau berangkat sangat pagi dan jadi pengunjung pertama dihari itu sehingga bisa mendapatkan suasanan yang nyaman untuk berwisata…. btw bebek ingkung kangen deh pengen makannya.. hmmm

  2. setelah googling ternyata bagus sekali tebing breksi, kalau tidak penuh orang, hihihi
    karena lagi kekinian yah mbak jadinya penuh banget, next udah tahu lah akan foto2 dimana kalau ke tebing breksi lagi…

  3. wah,kenapa gak mampir ke green village gedangsari mbak,naik flying fox 625 meter pasti seruu ,tempatnya gak jauh kok dari bukit breksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge