Tak Terlindung Di Pulau Tidung

Pekerjaan di kantor beberapa minggu ini sungguh bertumpuk. Sepertinya nggak ketahuan kapan bisa selesai. Berkurang satu, nambah satu. Begitu seterusnya.

Tapi syukurlah, akhir minggu ini saya bisa melarikan diri sesaat dari deretan tugas akhir tahun yang masih menanti untuk diselesaikan. Pulau Tidung adalah tujuan saya melepas penat. Semoga bisa terlupa sesaat pekerjaan yang ada, pulang dalam kondisi fresh, dan dapat melanjutkan tugas hingga akhir tahun sesuai dengan rencana.

Bersama keempat teman, @giewahyudi, @denignasher, Karina dan Goedel Mood yang kesemuanya adalah blogger pemenang kompetisi menulis yang saya selenggarakan. Dengan tiga nama yang belakangan saya sebut, saya belum pernah bertemu, meski secara maya sudah beberapa lama mengenalnya.

Hampir deg-degan nggak jadi berangkat bareng teman-teman blogger, karena Karina dan Denny datang di saat-saat akhir, perahu sudah akan berangkat menuju Pulau Tidung. Goedel sudah datang terlebih dahulu di pom bensin muara angke, tempat janjian kami bertemu. Tunggu punya tunggu, Karina masih di Kota dan Deny masih di daerah Ancol saat kapal yang pertama sudah berangkat. Untung, tak hanya satu kapal yang bertolak menuju Tidung, kami naik kapal ke dua.

Pulau Tidung

Perjalanan selama di laut lumayan seru, ombak cukup besar buat saya, @giewahyudi dan Mas Romy (penyelenggara tour n travel yang baik hati) yang duduk di dek atas haluan kapal. Menikmati panasnya matahari dan tiupan angin laut yang segar. Tak sempat tidur selama perjalanan, karena pemandangan lebih indah untuk dilewatkan.

Pulau Tidung

Burung-burung yang melintas dan deretan pulau dengan karakteristik yang berbeda, menjadi pemandngan sepanjang dua setengah jam terombang-ambing di atas lautan. Berangkat pukul 07.30 pagi dari muara angke dan mendarat jam 10.00 di Pulau Tidung.

Mas Romy, pemilik Bandar Pulau Tidung, menceritakan bahwa dirinya sudah kewalahan menerima pesanan saat libur Natal dan Tahun Baru. Semua home stay sudah full booked. Mas Romy sendiri masih akan membangun tiga pintu penginapan dan tempat bakar ikan, tepat di pinggir pantai. Hmmm, suatu saat jadi pengen balik lagi ke Pulau Tidung…

Pulau Tidung

Tiba di Pulau Tidung, kami serombongan langsung menuju penginapan yang sudah disediakan oleh Mas Romy. Sebuah rumah dengan AC yang sangat nyaman. Es syrup dingin langsung menawarkan dahaga selama perjalanan. Istirahat sebentar, menata tas di penginapan, dan langsung makan. Menu cumi goreng, ikan bakar dan sayur asem, hmmm nikmat!

Kami ditawari untuk istirahat selama satu jam sebelum nanti akan dibawa ke pulau Payung dan pulau Tidung Kecil untuk snorkeling. Tapi kami semua sepakat menolak untuk diam-diam saja di penginapan. Kami langsung mengambil sepeda yang terparkir di halaman rumah dan mengayuhnya ke bagian barat Pulau Tidung.

Pulau Tidung

Pulau Tidung

Ternyata, Pulau Tidung tak sekecil yang saya bayangkan. Saat jalan-jalan pertama kali ke Pulau Tidung, saya tak sempat menjelajah sampai ke bagian barat, yang pantainya juga ada beberapa spot yang bisa dikunjungi. Di depan kantor Kecamatan Pulau Tidung, terdapat taman dengan pepohonan yang rindang. Kami parkir sepeda di sana, dan berlari menuju pantai. Sayang, di atas pasir putihnya, tumpukan sampah menghalangi kami berlari-lari di sepanjang bibir pantai. Air laut dan awan di atas pantai sendiri tampak biru dan indah. Lumayanlah buat dinikmati. Tak terasa, sudah mendekati jam dua belas, saatnya untuk kembali ke penginapan, karena kami akan snorkeling. Yihaaa!

Alat-alat lengkap berupa snorkel, kaca mata, fin dan pelampung sudah disiapkan oleh Mas Romy. Kami mencobanya yang sesuai dengan ukuran. Daaaan, meluncurlah kami ke pantai, ditemani oleh seorang guide, Mas Anwar. Sebuah kapal khusus disewa untuk mengantar rombongan kami menuju spot-spot yang indah dengan karang dan ikan warna warni.

Bagi yang merasa nggak bisa berenang, tapi pengen bisa menikmati rasanya snorkeling di Pulau Tidung, nggak perlu khawatir. Ada pelampung yang menemani kita dan dipandu oleh guide yang sudah pengalaman. Teman-teman saya aja @denygnasher, Goedel Mood dan Karina dari awal juga mengaku sama seperti saya, nggak bisa berenang, tapi nyatanya, bisa berjam-jam menikmati pemandangan bawah laut Pulau Tidung Kecil. Sayang, ombaknya cukup besar saat itu, dan angin juga bertiup kencang, menjadikan semuanya lemas padahal masih pengen menikmati laut.

Pulau Tidung

Selesai snorkeling, masih dengan kapal sewaan, kami dibawa ke tempat yang paling dikenal di Pulau Tidung. Apa lagi kalau bukan jembatan cinta. Jembatan Cinta adalah jembatan yang menghubungkan antara Pulau Tidung Besar dan Pulau Tidung Kecil. Jembatan panjang terbuat dari kayu tersebut, memiliki bagian yang melengkung setinggi lima meter, dan sering dipakai untuk menguji nyali: terjun menuju laut. Sore itu, tak satupun dari rombongan kami berani mencoba. Mungkin juga karena sudah lelah melawan ombak saat snorkeling tadi. Akhirnya kami hanya bertepuk tangan saat ada rombongan lain yang terjun dari atas Jembatan Cinta Pulau Tidung.

Kembali ke penginapan, kami bergantian mandi. Makan malampun sudah terhidang di atas meja. Nyaamm, kami mengisi perut yang sudah kosong. Saya, lalu tertidur di depan televisi. @denygnasher tampaknya juga merem di kursi. @giewahyudi dan Goedel Mood mengobrol sambil minum kopi di teras depan, sedang Karina sambil leyeh-leyeh, nonton televisi. Sebenernya kami semua kecewa, karena rencana dari awal kami ingin foto-foto saat sunset, tapi waktunya sudah nggak kekejar lagi. Yah, SLR-nya @denygnasher nganggur jadinya.

Pulau Tidung

Jam delapan, semuanya dipanggil ke tepi pantai untuk menikmati ikan bakar dan minum es kelapa muda. Hmmm, nikmatnya… Sambil melihat bulan, meskipun cuaca tidak cerah dan sedikit mendung, segarnya angin pantai membuat suasana romantis. Tanya-tanya ke Mas Romy kenapa ikan bakarnya sangat enak, ternyata kuncinya ada di sambel kecapnya yang menggunakan kecap ABC Black Gold. Meresap dan kaya rasa, deh jadinya…

Setelah perut kenyang dan malam juga sudah larut, kami kembali ke penginapan, dan semua tergeletak tepar dengan suksesnya. Tak ingin melewatkan sunrise seperti halnya sunset kemarin, alarm sengaja distel jam 04.30 biar bisa siap-siap dulu. Lanjut dengan tidur nyenyak. Dinginnya AC sudah nggak dirasa lagi, badan capek semua, dan kami kompak berucap: Selamat Malam…

Pulau Tidung

Sesuai dengan alarm, kami semua bangun tepat waktu. Nggak ada yang mengeluh kecapean, semuanya semangat ingin mengejar sunrise. Jam lima, kami mengayuh sepeda menuju Jembatan Cinta, dimana matahari yang cantik biasa memunculkan diri. Apa daya, jembatan cinta pagi itu terlihat tak bergairah. Langit mendung. Fotografer dengan kamera-kamera SLR yang lebih dulu tiba di Jembatan Cinta juga lunglai. Sepertinya bakal gagal mendapatkan objek buruannya. Kami serombongan memutuskan berjalan melintasi jembatan menuju Pulau Tidung Kecil. @denygnasher menangkap beberapa moment dengan SLR-nya, meski tak seindah sunrise jika cuaca cerah.

Pulau Tidung

Di tengah jembatan, kami mendapati tangan usil yang mencoba membakar jembatan. Hampir tidak mungkin puntung rokok biasa penyebabnya, karena angin sangat besar dari kemarin, jadi kalaupun ada yang membuang puntung rokok sembaranganpun pasti akan jatuh ke laut. Jembatan Pulau Tidung berasap dan tiangnya suda terbakar hampir seperempat bagian. Kami berusaha memadamkannya dahulu sebelum melanjutkan perjalanan.

Menginjakkan kaki pertama kali di Pulau Tidung Kecil, hujan gerimis menyambut kami. Untungnya, ada pondok penjual makanan tepat di bibir pantai. Kami berteduh sambil mengisi perut. Mie instan, bakwan yang masih mengepul dan secangkir kopi, menghangatkan badan. Lanjut ke makam panglima hitam saat hujan reda.

Pulau Tidung

Pulau Tidung Kecil tidak berpenghuni. Namun demikian, ada rumah penjaga yang pada siang hari ada petugasnya. Untuk mencapai makam panglima hitam, harus berjalan melewati semak-semak dengan rumput ilalang setinggi dada. Siap-siap dengan celana dan kaos lengan panjang jika tak mau kulit tergores yang bisa mengakibatkan badan gatal-gatal. Panglima hitam adalah seorang yang dipercayai sebagai pahlawan saat melawan penjajah Belanda. Ada juga beberapa makam anak buahnya yang tersebar di Pulau Tidung Kecil.

Pulau Tidung

Nah, bagian yang paling asyik adalah pantai pasir putih yang tersembunyi di sudut pulau tidung kecil. Jika di Pulau Tidung Besar anda mendapati banyak sampah di bibir pantai, di Pulau Tidung Kecil: BERSIH!

Saya dan kawan-kawan rasanya nggak pengen balik dari pantai di Pulau Tidung Kecil ini. Tapi apa daya, waktu terbatas, jadi kami bergegas mengakhiri keindahan pulau tidung kecil. Sarapan sudah menanti di seberang jembatan cinta. Mas Romy dan istrinya mengantarkan sarapan di pantai, sehingga kami bisa menghabiskan waktu dengan mencoba meloncat dari Jembatan Cinta.

Anak-anak kecil dan remaja lokal seolah mengejek keberanian kami dengan bolak-balik terbang di udara dan menjatuhkan diri ke dinginnya air laut. Beberapa pengunjung mulai panas dan menjajal keberanian mereka. Byuur, melompatlah ke dalam laut dari ketinggian lima meter. @giewahyudi akhirnya 3 kali melompat, setelah saya tantang dengan iming-iming hadiah. πŸ˜† Karina juga sangat pemberani, terjun dari Jembatan Cinta, meski ditungguin @giewahyudi di bawah untuk dituntun berenang ke tepian. Saya? Cukup menonton dan bertepuk tangan saja.

Pulau Tidung

Puas, akhirnya bisa menikmati libur akhir minggu dengan teman-teman blogger yang baru saya kenal. Pulang ke penginapan, mandi, dan kapalpun sudah menanti di pelabuhan siap membawa pulang kami menuju Jakarta. Di atas kapal, mencari posisi enak buat tidur. Saya, @giewahyudi dan Goedel Mood tergeletak tak berdaya. Karina saya lihat menyender di tiang kapal. Sedangkan @denugnasher, entah kenapa, energinya seperti tak habis-habis: menikmati cipratan air laut yang menerpa masuk ke dalam kapal.

Jam tiga, kapal mendarat di muara angke. Bau amis yang sangat menyengat, membuat perut lapar menjadi mual. Kami naik angkot B01 jurusan grogol dan berpisah dengan Goedel Mood yang melanjutkan perjalanan ke Depok dengan bis patas AC. Sisanya, naik busway menuju Harmony.

~~~

Foto hasil jepretan saya dan @denygnashher. Mau foto lengkap? Lihat di Facebook saya ya. Terimakasih pada Mas Romy. Yang pengen jalan-jalan ke Pulau Tidung bisa kontak Mas Romy di 0857-1616-9794

Author: isnuansa

Emak dengan satu anak yang hobi nulis. Memilih tidur kalau ada waktu luang. Follow saya di twitter: @isnuansa

54 thoughts on “Tak Terlindung Di Pulau Tidung”

  1. Biru itu cakrawala laut, biru juga cakrawala langit.
    Biru langit terkaca di birunya laut, begitu juga birunya laut yang terkaca di birunya langit.
    Eh, keduanya terkaca di bening matamu lho.

    *komen gombal*

  2. Biasanya yang ke pulau tidung, di Jembatan Cinta itu foto sambil loncat gituh…
    Mba Is dkk ngga ya?

    πŸ˜€

    Kalo snorkling setau saya paling bagus di Semak Daun.
    Jadi penasaran sama snorkling pulau tidung jg nih πŸ˜€

    1. murah mas, tapi tergantung seberapa banyak kelompok kita. kalo hanya berdua bisa sampai 350000. tapi kalo bersepuluh ya dapat harga 285000an.

      harga itu sudah tiket perahu pp, welcome drink, makan 3 kali, sewa sepeda, sewa kapal untuk snorkeling, sewa peralatan snorkel lengkap, barbeque, dan menginap di guest house ac.

      murah kan?

  3. Pulau Tidung cantik nian ya πŸ˜€
    Oh Indonesia betapa kau indahnyaaaa……………..
    Mba kalo jalan2 ajak2 doongggg he..he….

  4. seru ya perjalanannya…. sayang banyak moment yang tidak bisa dicapture dgn DSLR.
    Cuma kok penginapannya pink sih hihihi

    EM
    Ikkyu_san selesai posting Kering

  5. Wah tak tinggal beberapa bulan blog mbak Nunik makin kece aje ye. Tulisannya juga sudah berbeda madzabnya, gak kayak dulu lagi. Saya juga sudah mereformasi beberapa blog untuk mengais rejeki mbak karena beberapa blog itu sepi.

    Mbak Nunik sering banget ya piknik, gak kayak saya, hanya di rumah saja. Kapan ke Surabaya.
    lain kal saya pengin ke Pulau Seribu.

    Salam hangat dari Surabaya

  6. Ah mantap kali ini …
    Suatu saat pingin juga saya ke sana …

    tetapi …
    mengingat Dua Setengah Jam terombang ambil di laut ?
    aarrrggghhh …
    Saya mabok nggak ya ?

    salam saya Mbak Is

  7. dear isnuansa

    saya tertarik dengan komentar kamu nih yg sebagai berikut

    murah mas, tapi tergantung seberapa banyak kelompok kita. kalo hanya berdua bisa sampai 350000. tapi kalo bersepuluh ya dapat harga 285000an.
    harga itu sudah tiket perahu pp, welcome drink, makan 3 kali, sewa sepeda, sewa kapal untuk snorkeling, sewa peralatan snorkel lengkap, barbeque, dan menginap di guest house ac.
    murah kan?

    untuk perihal tersebut itu biaya perhomestay atau per person ya
    mohon informasinya

    salam kenal

    1. Halo mas, itu harga tahun 2010 ya.. Kalau kondisinya di lapangan sekarang ini saya nggak tahu lagi. Denger-denger informasi, skrg ini sudah banyak sewa kamar untuk 2/3 orang saja per kamar.

      Komentar saya 350.000 itu per person, udah termasuk semua, kapal pp, menginap, sewa boat untuk snorkeling, dan bakar ikan.

      Banyak kon travel agent yg buka trip murah meriah ke Tidung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge