Tolakangin

Akhirnya saya memilih untuk meminum sebungkus Tolakangin cair daripada beberapa gelintir obat untuk menghilangkan rasa capek dan pegal-pegal yang teramat sangat. Biasanya orang bilang Nggak Enak Badan, untuk menyebut jenis penyakit yang kemarin [baca: baru saja] saya derita itu.

Jika Tante dan sepupu saya memilih untuk dikerok dan minum salah satu merk obat yang bisa dibeli di warung sebelah, saya pilih cara yang banyak dipakai oleh orang pintar: minum Tolak Angin.

Bukannya tanpa alasan. Dengan sudah rutinnya saya memasukkan dua gelintir multivitamin ke dalam mulut saya, akan semakin banyak lagi gelintir-gelintir yang harus saya telan hanya karena penyakit ringan yang mungkin bisa hilang dengan sendirinya jika tubuh ini menerima perlakuan layak seperti istirahat dan tidur yang cukup.

Daripada nanti menjadi manja dan sedikit-sedikit pergi ke warung tetangga, makanya saya minum saja Tolakangin cair tadi -yang-sudah–tersedia-dan-tinggal-glek saja- yang kabarnya bukan masuk ke dalam golongan obat-obatan terlarang melainkan jamu tradisional.

Bukannya tubuh kita juga sudah dilengkapi dengan seperangkat alat sholat dan uang sepuluh ribu rupiah dibayar tunai antibody yang berfungsi melawan sel dan/atau virus dan/atau kuman penyakit yang menyerang tubuh kita?

Terus, gimana kalo Nggak Enak Badannya tidak segera berubah menjadi Badan Yang Enak setelah minum cairan pembasmi serangga yang termasuk jamu tradisional tersebut?

Kayaknya perlu dilarikan ke UGD deh! πŸ˜†

Author: isnuansa

Emak dengan satu anak yang hobi nulis. Memilih tidur kalau ada waktu luang. Follow saya di twitter: @isnuansa

11 thoughts on “Tolakangin”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge