Sudah bukan barang yang aneh kalau kita terjebak macet berjam-jam di Jakarta. Bahkan untuk jarak yang hanya beberapa ratus meter saja dibutuhkan waktu yang lama jika macet. Udah biasa, jadi saya pun jarang mengeluh lagi. Tapi, saat mudik, rasanya akan jadi berkali-kali lipat keselnya jika harus terjebak macet di jalan. Sudah pengen cepet-cepet ketemu sanak saudara di kampung, jadinya marah aja kalau macet.
Nah, seminggu menjelang Lebaran kaya gini, tambah satu kerjaan saya: cari informasi lalu lintas untuk memutuskan kapan waktu yang tepat untuk mudik. Mulai gonta-ganti saluran televisi yang menayangkan pantauan langsung arus mudik. Terutama jalur Pantura, karena memang lebih suka lewat sana daripada lewat jalur selatan (nagrek).
Sudah pernah merasakan pulang mudik dari mulai H-7 sampai dengan pas hari H, dan mengalami berbagai cerita masing-masing hari tersebut. Kebanyakan sih tetep sama saja: macet! (Ya iyalah, namanya juga banyak banget yang mudik, ya pasti jalanan macet) Waktu yang normalnya bisa ditempuh dalam 10 jam (Jakarta – Klaten, plus istirahat) bisa saja menjadi 24 jam atau bahkan lebih. Kalau persiapan nggak bagus, bisa kacau. Apalagi masih bawa anak kecil (keponakan) yang rewel, wuih, mantap deh rasanya!
Sampai saat ini yang paling dihindari adalah mudik H-1 di jalan. Soalnya dengan target malam sampai di kampung, sering terjebak iring-iringan takbir keliling di daerah Semarang, Salatiga dan Boyolali. Bisa 5 jam lebih di satu tempat doang demi menunggu jalanan macet akibat takbir keliling yang malah seperti sengaja di jalan jalur mudik. Nggak lagi-lagi deh.
Dan pengalaman yang menggelikan adalah pas mudik di hari H! Kami pengen nyoba, bener nggak jalanan lancar kalau pulangnya pas hari H. Dan benar. Jalanan memang lumayan lancar, hanya butuh kehati-hatian ekstra, karena di banyak tempat, orang-orang lokal menyeberang jalan untuk silaturahmi antar kampung yang lokasinya berseberangan jalan.
Saya dan keluarga udah seneng aja dengan kondisi jalanan yang nggak macet. Sampai tibalah saatnya makan siang. Dari pagi belom sarapan pula. Cuma ngemil makanan kecil dan roti-roti yang memang dibawa untuk menemani perjalanan. Tapi kan perut ini perut Indonesia, yang belum makan kalau bukan nasi. Jadilah semua celingak-celinguk nyari restoran yang buka. Nggak ada. Sampai sore, tetep nggak ada juga. Saat Lebaran, ternyata semua restoran sepanjang jalur mudik tutuuuup!
Jadilah semua orang dalam mobil lemes semua. Nggak ada semangat. Udah stress berat nggak makan dari pagi. Dan saat itu akhirnya nemu juga warung bakso di daerah Semarang. Hwah, dari Jakarta sampai Semarang baru nemu warung makan. Itupun bakso, bukan nasi! Ya sudahlah. Daripada enggak sama sekali.
Tahun ini, entah kapan saya akan mudik. Lihat situasi dulu. Semoga saja nggak salah pilih hari.
Ada yang punya cerita, kapan waktu yang tepat untuk mudik?
Berlangganan via email yuk! Agar bisa menerima artikel terbaru dari blog isnuansa.com
Nb: Buka email anda & klik link konfirmasi berlangganannya.

wah sayan gaku ga bisa mudik…