Jalan Jalan Malang: Jelajah Kota

Meski tak seseru rombongan Blogger Ngalam saat bersamaan Jelajah Kota, saya dan suami berusaha memanfaatkan waktu yang singkat selama di Malang untuk jalan-jalan ke seluruh penjuru. Beruntung, saudara memberikan fasilitas sepeda motor yang siap kami bawa berkeliling kota, dari ujung ke ujung. Okeh, kita mulai saja apa yang berhasil kami rekam selama di Malang.

Stasiun Malang Kota Baru

Stasiun Malang Kota Baru

Tempat inilah pertama kali kami menginjakkan kaki di Malang setelah selama 15 jam berada di atas kereta api Gajayana dari Jakarta. Ada dua stasiun di kota Malang, yaitu Malang Kota Lama dan Malang Kota Baru. Khas bangunan stasiun di sepanjang Pulau Jawa ini, peninggalan Belanda.

Monumen Juang 45

Monumen Butho Turu

Mungkin banyak yang tak menyadari keberadaan monumen ini. Memang tidak setua bangunan lainnya yang kebanyakan peninggalan Belanda, Monumen Juang 45 baru dibangun sekitar tahun 1975. Berupa sebuah patung raksasa “Butho Turu” yang menggambarkan perjuangan rakyat melawan penjajah. Posisinya ada di depan Stasiun Malang Kota Baru.

Balaikota Dan Tugu Alun Alun Bundar

Alun alun bundar dan balai kota malang

Terletak di jalan Tugu, kantor Balaikota Malang didesain oleh seorang arsitek dari Belanda. Saya tak berada lama di tempat ini, hanya mengambil beberapa gambar saja sambil berputar di bundaran alun-alun yang ditengahnya ada tugu dan bunga-bunga beraneka warna.

Gereja Katedral St. Perawan Maria Malang

Katedral Malang

Katedral Malang

Agak susah ya cari referensi bacaan tentang gereja ini. Terletak di ujung bundaran Jalan Ijen, Malang dan dikelola oleh Ordo Karmel. Katedral ini sejajar dengan deretan bangunan perumahan peninggalan Belanda yang masih tersisa di sepanjang Jalan Ijen. Beberapa rumah sudah terlihat direnovasi dan berubah total, sementara ada yang masih mempertahankan bentuk aslinya.

Museum Brawijaya

Museum Brawijaya Malang

Di Jumat sore yang sepi, saya dan suami berkunjung di Museum Brawijaya. Sebentar lagi mungkin museum akan tutup. Saya mengambil gambar satu per satu koleksi museum yang ada. Di bagian depan terlihat tank-tank yang dulunya digunakan berperang. Ada juga meriam, senjata-senjata api, uang jaman jepang, pakaian tentara, juga benda-benda peninggalan Panglima Besar Jenderal Soedirman. Peta, mobil, teleskop, radio, dan di bagian belakang di halaman luar terdapat Gerbong Maut,Β  dan sebuah perahu. Banyak foto-foto narsis saya, tapi nanti pada mual kalo ditampilin semua di sini. πŸ˜† Oiya, tiket masuk Rp. 3.000,- per orang dan parkir sepeda motor Rp. 1.000,-

Monumen Pahlawan Trip

Monumen Pahlawan Trip

Monumen ini untuk mengenang pahlawan yang gugur di pertempuran dengan Belanda pada saat Agresi Militer Belanda I. Ada 35 nama tentara yang diukir di dinding bagian dalam monumen. Sayangnya, pada saat saya ke sana, monumen dalam keadaan terkunci, sehingga saya hanya bisa mengambil gambar sambil mengintip ke dalam.

Pasar Burung Splendid Malang

Pasar Burung Splendid

Cerita lengkapnya bisa dibaca di tulisan GieWahyudi ya. Ada slide show foto-foto pasar burungnya di sana. Biar saya nggak usah ngetik lagi, hehe..

Masjid Agung Jami’ Malang

Masjid Agung Jami Malang

Letaknya di depan alun-alun Kota Malang, di Jalan Merdeka Barat. Jangan tertukar dengan alun-alun bundar yang ada tugunya ya, yang di depan Kantor Balaikota. Entah kenapa Malang ini memiliki dua alun-alun. πŸ˜€

Ini foto alun-alun yang di depan Masjid Agung Jami’ Malang, sejuk ya, enak buat duduk-duduk:

 

Gereja Hati Kudus Yesus Kayutangan

Gereja Kayutangan

Sama dengan Katedral, saya juga nggak dapat bahan bacaan seputar Gereja Kayutangan ini. Terletak di depan Toko Oen, bangunan yang didirikan tahun 1905 ini terlihat sangat indah. Ada satu lagi gereja di seberang jalannya, kalau saya tak salah lihat dan tak salah ingat adalah GPIB. Sayangnya saya tak sempat ambil gambarnya. Bentuknya hampir mirip dengan Gereja Hati Kudus Yesus ini.

Toko Oen

Toko Oen

Hiyaaa… Akhirnya makan es krim di tempat yang terkenal sejak tahun 1930an itu. Mahal juga sih, sesendok kecil Rp. 20.000,- untuk es krim duren dan saya pilih Oen’s Special yang harganya Rp. 35.000,- [belum termasuk pajak] itu.

 

Oke, sebenernya masih ada beberapa lagi, tapi tangan sudah capek ngedit foto, upload, cari referensi dan menuliskannya. Bersambung di tulisan tentang jalan-jalan Malang berikutnya ya. Yang pasti, Malang adalah kota dengan hawa sejuk dan tanpa macet yang sangat menyenangkan untuk liburan. πŸ˜€

42 thoughts on “Jalan Jalan Malang: Jelajah Kota

  1. pas ngga macet :p
    kalo aku pas ga menyibuk gitu aku temenin blusukan ke tempat2 yg aneh deh is. kayak ke araya yang tamannya keren2 tapi klo foto2 dikejar satpam.

    oiya, kalo ikut jelajah kota seru juga. sama guidenya diceritain macem2 ttg sejarah gereja itu.
    kapan2 klo ke malang lg ya is ya
    nengbiker selesai posting Uniknya Resto Inggil #OblongMerahMuda

  2. kayaknya lagi rame2 di Malang ya?
    ada berapa orang kayaknya posting tentang jalan2 di Malang deh hehehe
    bikin mupeng mpe ngeces geneh …

    eh ini bumil masih jalan2 aja sih? πŸ˜€

  3. wow .. fotonya cantik cantik ….
    pernah ke musem Brawijaya dan laun alunya

    kalau lihat gerejanya … nggak banyak beda bentuknya kayak bangunan gereja di sini πŸ™‚
    bener, malang sejuk banget, cocok buat liburan πŸ˜€
    Ely Meyer selesai posting Arti Bahagia

  4. Wow… Asik banget foto2nya… Bagus2 nih.. Hahaha… Oya, mau share aja nih.. Tempo hari saya nginap di hotel Kartika Graha dapat beberapa info tempat2 terkenal d malang dari org2 hotelnya.. Rata-rata kuliner sih, selaen tempat2 wisata… Sempat coba puthu lanang, gado2 pasar oro dowo, sama bakso kota waktu liburan ke Malang.. Trus ke pantai Bajul mati waktu itu… Coba cari info ke hotelnya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge